Fungsi Pesantren Yang Berubah

Berubahnya fungsi pesantren dalam kerangka pengembangan budaya nasional tidak lepas dari jalinan makna, kepercayaan dan nilai yang dianut bersama oleh kaum santri, disamping itu juga makna, kepercayaan dan nilai yang

dianut oleh kyai sebagai penguasa pesantren yang telah membesarkan para santri. Bahkan apa yang dinamakan komitmen para kyai, pengasuh, pengurus dan santri, power para penguasa, beserta pemanfaatan dan pengaruh penguasan dan perkembangan budaya dan teknologi sangat menentukan terhadap terjadinya perubahan-perubahan budaya di kalangan kaum santri.

  Terjadinya perubahan fungsi pondok pesantren dalam kerangka pengembangan budaya nasional ditandai dengan hadirnya berbagai lembaga pendidikan di pondok pesantren, seiring perkembangan zaman dan kebijakan-kebijakan pemerintah tentang penyelenggaraan pondok pesantren.

Pesantren yang dahulunya hanya menyuguhkan aktivitas-aktivitas keagamaan berupa kajian-kajian kitab agama berbentuk sorogan (bimbingan individual) dan bandongan (ceramah umum) dengan tanpa pembagian kelas, berubah menjadi lembaga pendidikan keagamaan dengan sistem madrasi –mengkaji kitab-kitab agama dan pelajaran umum–, bahkan kemudian merupakan sentral pendidikan dengan multi sistem, yaitu sistem pesantren, sistem madrasi, sistem persekolahan, serta akhir-akhir ini ditambahkan pula dengan kurikulum muatan lokal berupa ketrampilan-ketrampilan khusus. Terlebih lagi dengan didirikannya perguruan tinggi di berbagai pondok pesantren tersebut. Belum lagi masuknya media informasi ke pondok pesantren, misalnya: TV, Koran, Majalah, Radio dan Pusat Informasi Pesantren (PIP) yang diprogram oleh pemerintah. Sudah tentu, adanya perubahan ini tidak lepas dari peran para kyai sebagai penguasa tunggal di pesantren yang mulai terbuka akan perubahan zaman.

  Dengan adanya kebijakan kyai dan pemerintah inilah memungkinkan bagi para santri untuk bisa memasuki perguruan tinggi, tidak hanya yang berafiliasi terhadap agama –semisal IAIN– tetapi juga perguruan tinggi umum, sehingga terjadilah mobilisasi di kalangan kaum santri, baik dalam bidang status sosial maupun ekonomi. Pada awalnya, lulusan pondok pesantren hanya bisa menjadi juru ngaji, petani atau pedagang –yang terakhir ini justru tidak pernah diajarkan selama di pesantren–, kini tidak lagi demikian, segala profesi bisa dimasuki dan dikuasai sepanjang relevan dengan disiplin keilmuannya.

  Sudah tentu, fenomena semacam ini tidak hanya berdampak  kepada berubahnya fungsi pondok pesantren dalam pengembangan budanya lokal ke budaya nasional, tetapi juga berdampak pada perubahan tatanan kehidupan dan budaya kaum santri –baik yang masih berada di pondok pesantren maupun yang sudah menyelesaikan studinya sampai perguruan tinggi–, bahkan dalam kenyataannya untuk saat sekarang dapat menentukan budaya dan corak budaya kenegaraan, berupa upacara-upacara kenegaraan –semisal para pejabat tidak enggan lagi mengucapkan salam sewaktu acara tersebut– sampai pada taraf pengambilan kebijakan kenegaraan yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat –misalnya UU Peradilan Agama, penentuan hari raya, pengontrolan makanan halal haram, pemberantasan kemiskinan, dan sebagainya–.

 Kalau disimak lebih lanjut, pada dasarnya semua pesantren berangkat dari sumber yang sama, yaitu ajaran Islam. Namun terdapat perbedaan filosofis di antara mereka dalam memahami dan menerapkan ajaran-ajaran Islam pada bidang pendidikan sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat yang melingkarinya. Perbedaan-perbedaan itu pada dasarnya berpulang pada perbedaan pandangan hidup kyai yang memimpin pesantren mengenai konsep teologi, manusia dan kehidupan, tugas dan tanggungjawab manusia terhadap kehidupan dan pendidikan. Dalam kenyataannya, masing-masing pesantren mempunyai ciri khas sendiri-sendiri yang berbeda satu dari yang lain, sesuai dengan tekanan bidang studi yang ditekuni dan gaya kepemimpinan yang di bawah. Karena itu pula dalam pengembangan budaya juga berfariasi, ada pondok pesantren yang berupaya mempertahankan dan mengembangkan budaya yang  bercorak tradisional tetapi ada juga yang mengembangkan budaya yang lebih bercorak moderen sesuai dengan perkembangan zaman.

 Pada awalnya, pondok pesantren lebih dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam, yaitu lembaga yang dipergunakan untuk penyebaran  agama dan berfungsi sebagai pengembangan budaya lokal, yakni tempat mempelajari agama Islam. Mengingat sampai abad 16 M pengaruh ajaran tasawuf dan Hindu sangat kuat, maka perfoman kaum santri lebih bercorak sufi dan masih bernafas Hindu sentris, dalam arti mereka lebih cenderung mengamalkan faham tersebut dalam kehidupan individual dan berlaku pada kelompok santri saja.

 Selanjutnya lembaga ini mulai abad 16 M, fungsinya dalam pengembangan budaya semakin meluas, yakni selain sebagai pusat penyebaran dan belajar agama yang sifatnya lokal, juga mengusahakan tenaga-tenaga bagi pengembangan agama Islam ke masyarakat yang lebih luas. Mengingat, umat Islam sudah berkuasa, ditandai dengan munculnya beberapa kerajaan Islam, misalnya di Aceh, Demak, Giri, ternate, Tidore, dan Gowa Talo di Makasar. Maka terjadilah perumbahan orientasi pesantren, adanya keinginan untuk mencetak tenaga-tenaga yang mampu menyiarkan agama  yang bernafaskan Islam secara murni tanpa diwarnai ajaran Hindu. Untuk mencapai missi itu, maka dibukalah madrasah di beberapa pesantren dengan mengajarkan kitab-kitab agama dalam bidang jurisprodensi, teologi dan tasawuf. Orientasinya, bagaimana agar pesantren melahirkan para santri yang mampu menyiarkan agama Islam secara benar dengan tanpa menonjolkan rasa kesukuan dan berada dalam satu faham. Inilah yang menyebabkan para santri yang dihasilkan dari pesantren ini memiliki semangat juang tinggi dalam menyebarkan Islam, dan tidak muncul diskriminasi antar santri (tidak ada istilah santri tradisional dan santri modern).

 Mengingat agama Islam mengatur bukan saja amalan-amalan peribadatan, apalagi sekedar hubungan orang dengan Tuhannya, melainkan juga perilaku kelakuan orang dalam hubungan dengan  sesama dan dunianya.  Maka terjadilah perubahan dipesantren yang berimbas pada performan kaum santri di abad 18 M. Fungsi pondok pesantren berubah menjadi pusat gerakan politik dengan melahirkan para santri yang memiliki protonasionalisme di abad 19 M. Hal ini dikarnakan adanya penjajahan yang cukup kejam dari kaum Belanda, bahkan kaum santri didiskriditkan. Di samping itu terjadi pencerahan di kalangan kaum santri, sehingga mereka tersadarkan diri untuk memusuhi terhadap segala bentuk penjajahan.

 Di samping itu, hadirnya para ilmuwan Islam pada abad 19 M merupakan hal yang penting dalam mempengaruhi perubahan orientasi pesantren dan tradisi para santri yang lebih rasional dan penuh dengan tindakan-tindakan politis. Ditopang lagi adanya kebijakan politik pendidikan Belanda yang mulai terbuka untuk memperkenalkan budayanya di pesantren menjadikan kaum santri semakin cerdik  dan tanggap akan eksisitensi dirinya dan bagaimana seharusnya dia menentukan kiprah kehidupan melawan penjajahan. Sekalipun pada masa ini kemudian muncul kelompok santri tradisionalis dan modern (dengan adanya gerakan wahabi tersebut), tetapi mereka mampu menghalau segala bentuk penjajahan. Terjadilah perubahan dari budaya nrimo ing pandum menjadi budaya yang lebih rasional dan frontal terhadap kebatilan.

 Pesantren berubah fungsinya, dari sentral kajian agama menjadi pusat gerakan bagi penyebaran agama, gerakan bagi  pemahaman kehidupan keagamaan dan gerakan-gerakan sosial-budaya.   Kemampuan pondok pesantren bukan hanya dalam pembinaan pribadi muslim, melainkan juga bagi usaha mengadakan perubahan dan perbaikan budaya dan kemamasyarakatan. Pengaruh pondok pesantren tidak saja terlihat pada kehidupan santri dan alumninya, melainkan juga meliputi kehidupan masyarakat sekitarnya.

Di kalangan para kyai sendiri, karena sebagai arsitek kemasyarakatan (social engineer), ia harus memperhatikan selera masyarakat. Rupanya karena inilah mereka mampu bertahan untuk mengembangkan lembaga-lembaga pesantren dan disesuaikan dengan kebutuhan kehidupan masa itu, sehingga tidak heran bila berubahan-perubahan sistem penyelenggaraan pesantren dari masa ke masa terus terjadi dengan tetap mempertahankan faham keagamaannya (aliran yang dianut). Sekalipun sistem madrasah sejak abad 16 M telah ada, kemudian hadirnya lembaga-lembaga pendidikan umum di pesantren sejak adanya kebijakan pemerintah untuk mengembangkan pendidikan umum, kemudian hadir pula perguruan tinggi beserta teknologi tepat guna di pesantren; ternyata ciri khas kesantrenannya tidak hilang –dalam arti ada yang tetap bersikukuh mempertahankan tradisi tasawufnya sebagaimana semula–. Tentu saja, kondisi ini juga  mempengaruhi tradisi kaum santri, sebagai produk pesantren.

Diskriminasi di kalangan kaum santri –yaitu  adanya santri tradisional dan santri modern– yang mulai muncul sejak hadirnya kaum wahabi di Indonesia ditopang oleh politik etis Belanda, terus berlanjut hingga sekarang, sehingga tidak  heran sering terjadi tindakan politis antar santri sendiri. Semula  pertentangan mereka yang berkaitan dengan faham keagamaan yang sifatnya khilafiyah, berubah menjadi perselisihan dalam perebutan kekuasaan.

Fungsi pesantren dalam kerangka pengembangan budaya Nasional. Pondok pesantren semula hanya berfungsi sebagai pusat pengembangan budaya lokal yang diwarnai oleh nafas keagamaan ansih, penuh kedamaian dan rasa persatuan, berubah menjadi sentral pengembangan budaya dengan nafas politik  keagamaan, bahkan politik individual — yaitu terjadinya konflik antar kaum santri sendiri karena perebutan kekuasaan– yang bersekala nasional dan besar. Agama terkadang digunakan sebagai alat untuk menopang kepentingan pribadi dan lupa kepentingan umat Islam. Di kalangan kyai juga terjadi perubahan, dari figur kyai yang pengasah dan pengasuh santri di pondok pesantren menjadi kyai agung –menjadi politikus dan birokrat– yang terkadang tugas kekyaiannya terabaikan. Sitem penyelenggaraan pesantren semula berbentuk sorogan dan bandongan dengan aktivitas keagamaan ansih berubah menjadi lembaga pendidikan dengan sistem madrasah, sistem sekolah bahkan memiliki perguruan tinggi dengan berbagai aktivitas kependidikan –agama, iptek, ekonomi, politik, dan sebagainya–. Bangunan gedungnya tidak lagi berbentuk tradisional, tetapi sudah mengarah ke bentuk modern dengan ruangan-ruangan khusus.

Menurut Kuntowijoyo, pesantren kini tidak semata-mata sepenuhnya merupakan lembaga desa. Perjalanan pesantren melampaui tiga fase, yaitu ketika pesantren masih terpadu dengan desa, kemudian menjadi terpisah dari desa, dan akhirnya dapat menjadi lembaha yang sama sekali terasing dari desanya. Pergeseran ini seiring dengan bertambah besarnya lembaga pesantren dan jumlah santrinya.

Sekalipun demikian, pesantren tetap berfungsi sebagai pengembangan dan pewarisan budaya asli –yakni budaya santri– yang sudah tentu sangat besar sumbangannya terhadap pengembangan kebudayaan nasional. Kebudayaan nasional akan mantap apabila di satu fihak budaya-budaya nusantara asli tetap mantap dan di lain fihak kehidupan nasional dapat dihayati sebagai bermakna oleh seluruh warga masyarakat Indonesia. Budaya-budaya asli akan tetap mantap apabila diberi ruang dan diambil tindakan penunjang terbatas tertentu.

Kebudayaan nasional hanya dapat berkembang manakala merupakan usaha bersama keseluruhan masyarakat dan pemerintah, dengan berpatokan pada institusi yang ada. Begitu pula pondok pesantren akan dapat mengembangkan kebudayaan nasional manakala terjalin kebersamaan antara kyai, pengasuh, santri dan pemerintah dengan tetap berpatokan pada institusi yang ada. Kebersamaan itu pula yang menjadi penjamin terjadinya pengalihan cara dan pandangan hidup itu dari generasi ke generasi berikutnya. Tetapi mustahil bila membayangkan proses pengalihan itu sebagai pewarisan barang jadi serba utuh menyeluruh dan serba kedap pengaruh, bahkan menyirat sanggahan terhadap adanya dinamika dalam kehidupan yang membudaya sebagaimana nampak nyata sepanjang sejarah kemanusiaan sendiri. Meskipun demikian, perubahan yang terjadi tidak mungkin terlepas sama sekali dari apa yang telah ada sebelumnya. Wallahu A’lam nur s

6 thoughts on “Fungsi Pesantren Yang Berubah

  1. Pesantren memiliki peran signifikan dalam proses pembentukan budaya bangsa, termasuk sektor pendidikan. Pesantren tidak hanya mengambil peran budaya local, tetapi juga budaya nasional. Telah terjadi perubahan-perubahan fungsi Pondok Pesantren dalam kerangka pengembangan kebudayaan nasional. Pondok pesantren yang semula hanya berfungsi sebagai pusat pengembangan budaya yang bernafaskan tasawuf yang bersekala kecil dan lokal, berubah menjadi sentral pengembangan budaya bersekala besar, nasional bahkan global. Di kalangan kiai juga terjadi perubahan, dari figur kiai yang pengasah dan pengasuh santri di pondok pesantren menjadi kiai agung –menjadi politikus dan birokrat– yang terkadang ada kesan tugas kekiyaiannya terabaikan.
    Perubahan fungsi pondok pesantren tersebut dikarenakan banyak hal. Diantaranya adalah perubahan orientasi dunia pesantren dari kebijakan kiai sebagai penguasa tunggal pesantren (powership) menjadi pemimpin, berubahnya cita-cita edial para pengasuh dan para santri, adanya kepentingan pengurus pesantren dan pemerintah terhadap pesantren, dan semakin besarnya pengaruh perkembangan peradaban dunia yang dinafasi oleh science dan teknologi.

  2. Menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat, dunia pesantren mengalami pergeseran kearah perkermbangan yang lebih positif, baik secara struktural maupun kultural, yang menyangkut pola kepemimpinan, pola hubungan pimpinan dan santri, pola komunikasi, cara pengambilan keputusasan dan sebagainya, yang lebih memperhatikan prinsip-prinsip manajemen ilmiah dengan landasan nilai-nilai Islam. Dinamika perkembangan pesantren semacam inilah yang menampilkan sosok pesantren yang dinamis, kreatif, produktif dan efektif serta inovatif dalam setiap langkah yang ditawarkan dan dikembangkannya. Sehingga pesantren merupakan lembaga yang adaptif dan antisipatif terhadap perubahan dan kemajuan zaman dan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai relegius.

  3. Sekarang di Indonesia ada ribuan lembaga pendidikan Islam terletak diseluruh nusantara dan dikenal sebagai dayah dan rangkang di Aceh, surau di Sumatra Barat, dan pondok pesantren di Jawa (Azra, 2001:70). Pondok pesantren di Jawa itu membentuk banyak macam-macam jenis. Perbedaan jenis-jenis pondok pesantren di Jawa dapat dilihat dari segi ilmu yang diajarkan, jumlah santri, pola kepemimpinan atau perkembangan ilmu teknologi. Namun demikian, ada unsur-unsur pokok pesantren yang harus dimiliki setiap pondok pesantren. (Hasyim, 1998:39) Unsur-unsur pokok pesantren, yaitu kyai. masjid, santri, pondok dan kitab Islam klasik (atau kitab kuning), adalah elemen unik yang membedakan sistem pendidikan pesantren dengan lembaga pendidikan lainnya.

  4. Saat Islam masuk di Indonesia, pondok pesantren lebih berfungsi sebagai pengembangan budaya yang sifatnya lokal, yakni faham tarekat, karena memang waktu itu kegiatan Islam lebih banyak bersentuhan dengan tarekat, di mana terbentuk kelompok-kelompok organisasi tarekat yang melaksanakan amalan-amalan dzikir dan wirid –yaitu dzikir dengan formula kata-kata berjumlah tertentu-, serta para kiai pimpinan tarekat mewajibkan pengikut-pengikutnya untuk melaksanakan suluk yaitu tinggal bersama-sama sesama anggota tarekat di sebuah masjid selama 40 hari dalam satu tahun untuk melakukan ibadah-ibadah di bawah bimbingan seorang pemimpin tarekat. Untuk keperluan suluk ini, para kiai menyediakan ruangan khusus untuk penginapan dan tempat memasak di kiri dan kanan masjid. Di samping amalan-amalan tarekat, pusat-pusat pesantren semacam itu mengajarkan kitab-kitab dalam berbagai cabang pengetahuan agama Islam kepada sejumlah pengikut inti (santri). Dengan demikian, pada masa ini lembaga-lembaga pengajian untuk anak-anak dan lembaga-lembaga pesantren yang menjadi pusat organisasi tarekat tidak bisa dipisahkan, keduanya saling menunjang dan merupakan satu kesatuan struktur dalam sistem pendidikan tradisonal.
    Menurut Kuntowijoyo, pesantren kini tidak semata-mata sepenuhnya merupakan lembaga desa. Perjalanan pesantren melampaui tiga fase, yaitu ketika pesantren masih terpadu dengan desa, kemudian menjadi terpisah dari desa, dan akhirnya dapat menjadi lembaha yang sama sekali terasing dari desanya. Pergeseran ini seiring dengan bertambah besarnya lembaga pesantren dan jumlah santrinya.

  5. Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang diperkenalkan di Jawa sekitar 500 tahun yang lalu. Sejak saat itu, lembaga pesantren tersebut telah mengalami banyak perubahan dan memainkan berbagai macam peran dalam masyarakat Indonesia.
    Pada zaman walisongo, pondok pesantren memainkan peran penting dalam penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Juga pada zaman penjajahan Belanda, hampir semua peperangan melawan pemerintah kolonial Belanda bersumber atau paling tidak dapat dukungan sepenuhnya dari pesantren (Hasbullah 1999:149). Selanjutnya, pondok pesantren berperan dalam era kebangkitan Islam di Indonesia yang menurut Prof. Azyumardi Azra telah terlihat dalam dua dekade terakhir ini.

  6. Tujuan proses modernisasi pondok pesantren adalah berusaha untuk menyempurnakan sistem pendidikan Islam yang ada di pesantren. Akhir-akhir ini pondok pesantren mempunyai kecenderungan-kecenderungan baru dalam rangka renovasi terhadap sistem yang selama ini dipergunakan. Perubahan-perubahan yang bisa dilihat di pesantren modern termasuk: mulai akrab dengan metodologi ilmiah modern, lebih terbuka atas perkembangan di luar dirinya, diversifikasi program dan kegiatan di pesantren makin terbuka dan luas, dan sudah dapat berfungsi sebagai pusat pengembangan masyarakat (Hasbullah, 1999:155).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s