Generasi Bermental Buruh

 

Menjadi pegawai negeri sipil masih jadi incaran angkatan kerja di negeri ini.  Timbul pertanyaan di benak kita, benarkah keinginan untuk menjadi pegawai negeri itu keluar dari hati nurani mereka sendiri? Pertanyaan itu sebenarnya terdengar sedikit konyol karena jawaban yang diinginkan tidak akan pernah ditemui.

Sebab, bila kita mencoba bicara jujur pada diri sendiri, jawaban yang tersedia hanya akan membuat bumi pertiwi ini menangis. Hampir bisa dipastikan bahwa keinginan untuk menjadi seorang pegawai negeri semata hanya untuk mendapatkan masa depan yang lebih terjamin. Di akhir pengabdian seorang pegawai negeri akan menerima uang pensiun dan berbagai kemudahan jauh lebih terjamin dibanding bila bekerja pada sebuah swasta ataupun berwiraswasta sendiri.

Selain itu, di mata keluarga yang ’PNS maniak’ sangatlah tidak sia-sia jika seorang anak, adik, keponakan, saudara dan sebagainya yang sudah bersusah payah mendapat gelar sarjana setelah selesai pendidikan bisa diterima menjadi pegawai negeri. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, sakit dahulu dan senang kemudian.

Kondisi ini terjadi karena lembaga pendidikan kita semata-mata menghasilkan angkatan kerja bermental kuli. Hingga kini sistem pendidikan nasional kita masih sekedar menyiapkan kebutuhan memenuhi pasaran lowongan pekerja. Para generasi muda, secara mental, dididik menjadi buruh-buruh. Visi lulusan siap latih yang dilahirkan pada dasarnya adalah kapasitas calon kuli, yang nasibnya sangat ditentukan dengan tersedianya lowongan kerja.

Lembaga pendidikan kita hanya melahirkan limbah pendidikan, yang bak gelombang berjalan dari tahun ke tahun. Jika ini terus-menerus, tanpa reorientasi, dikhawatirkan terlahir generasi terdidik yang tidak lebih sebagai limbah sosial. Hanya berharap pada lowongan kerja yang disediakan pemerintah, terutama menjadi pegawai negeri yang notabene bisa santai tapi terjamin.

Untuk itu, sudah saatnya sistem pendidikan di Indonesia diarahkan agar mampu menciptakan lulusan yang mempunyai jiwa mandiri, kreatif dan tangguh dalam menghadapi persaingan usaha. Agar perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan manusia pencari kerja, maka perencanaan pembangunan pendidikan tinggi harus diselaraskan dengan perkembangan lapangan kerja.

Perguruan tinggi harus kreatif, sebab kesempatan kerja sesungguhnya masih terbuka lebar. Sektor pertanian, kelautan, perkebunan, dan perikanan sebenarnya sangat membutuhkan ‘sentuhan’ lulusan perguruan tinggi meski dengan berwirausaha sendiri. nur s

4 thoughts on “Generasi Bermental Buruh

  1. Sektor pendidikan yang diharapkan dapat memberikan pencerahan dan membentuk jati diri bangsa justeru mengalami krisis internal dan kehilangan orientasi. Konsep yang jelas dan konsisten dalam implementasinya selalu gagal menemukan totalitasnya. Refleksi kritis dan evaluasi komprehensif tidak memadai dilakukan. Perubahan politik di negara ini selalu mengorbankan konsep dan sistem pendidikan sehingga kesinambungan program-program pendidikan tidak pernah berjalan mulus. Ironisnya setiap pergantian menteri selalu melahirkan kebijakan-kebijakan baru yang sesungguhnya tidak memiliki dasar filosofis yang memadai. Pendidikan terkesan menjadi alat perjuangan politik kaum elitis dan dimanfaatkan sebagai sarana mempertahankan kelas tertentu. Belum lagi saat ini berkembang wacana kebijakan dua jalur pendidikan yang terkesan sangat esensialistik dan dikawatirkan akan menimbulkan segregasi sosial menimbulkan pro dan kontra. Orang tidak lagi memiliki kesempatan menikmati pendidikan berkualitas karena ada dalam “kemiskinan dan kebodohan”. Pendidikan telah mengkhianati misi utamanya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tanpa membeda-bedakan status sosial. Namun realitasnya pendidikan saat ini lebih sibuk melayani golongan sosial tertentu dan menjadi pelayan setia pada kapitalisme. Materialisasi pendidikan sudah mulai menggejala dan menggeser ideologi pendidikan mengarah kepada ideologi materialisme kapitalis. Kurikulum disusun dan diorientasikan untuk mampu mendapatkan pekerjaan dibungkus dengan baju modernitas. Konsekwensinya untuk menikmatinya diperlukan biaya yang besar. Padahal teori modern mengatakan pendidikan adalah investasi dan secara ekonomi sebagai modal yang akan dipetik keuntungannya. Dengan demikian untuk merealisasikan manusia yang seutuhnya dan tidak memarjinalkan akan sulit dicapai karena prinsip ekonomi tidak mengenal istilah spiritual, moralitas dan kebersamaan. Nilai-nilai moral diajarkan sebatas teori belaka dan tidak pernah dibuktikan dalam praktik kehidupan.

  2. Watak kaum intelektual di Indonesia terolah dalam semangat buruh. Itulah buntut dari strategi pendidikan kolonial yang dirancang sebagai sistem perburuhan. Kerja sekolah mencetak kalangan berakal pikir, tapi dibebat mental kebergantungan: “kebaikan” penguasa mengangkatnya sebagai abdi.

    Wacana itu terbetik pada 1942. Dalam Rapat Umum Partai Nasional Indonesia di Bandung dan Jakarta, ketika itu, pidato Bung Karno bertajuk “Kewadjiban Kaoem Intellectueel” seolah merupakan timah panas yang ditembakkan ke tubuh kaum intelektual pribumi. Pidato itu disarikan dalam buku Aku Pemuda Kemarin di Hari Esok suntingan A. Zainoel Ihsan dan Pitoet Soeharto (1981). Bahwasanya banyak intelektual pribumi yang bermental buruh: mereka yang menggantungkan diri atas pekerjaan yang diberikan oleh pemerintah kolonial, menikmati jeratan kekuasaan, dan enggan berpaling pada barisan pergerakan rakyat yang menghasrati kemerdekaan republik. Semestinya kaum intelektual tak mangkir dari panggilan perjuangan yang diagendakan rakyat bersama para intelektual pejuang.

  3. Selain pengetahuan, alam kesadaran manusia juga mengandung berbagai macam perasaan. Sebaliknya, dapat juga digambarkan seorang individu yang melihat suatu hal yang buruk atau mendengar suara yang tidak menyenangkan. Persepsi-persepsi seperti itu dapat menimbulkan dalam kesadaranya perasaan negatif.
    “Perasaan”, disamping segala macam pengetahuan agaknya juga mengisi alam kesadaran manusia setiap saat dalam hidupnya. “Perasaan” adalah suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang karena pengetahuannya dinilai sebagai keadan yang positif atau negative.

    Kesadaran manusia mengandung berbagi perasaan berbagi perasaan lain yang tidak ditimbulkan karena diperanguhi oleh pengeathuannya, tetapi karena memang sudah terkandung di dalam organismenya, khususnya dalam gennya, sebagai naluri. Dan kemauan yang sudah meruapakan naluri disebut “Dorongan”.

  4. Ada perbedaan paham mengenai jenis dan jumlah dorongan naluri yang terkandung dalam naluri manusia yaitu ;
    1. Dorongan untuk mempertahankan hidup. Dorongan ini memang merupakan suatu kekutan biologis yang ada pada setiap makhluk di dunia untuk dapat bertahan hidup.
    2. Dorongan seks. Dorongan ini telah banyak menarik perhatian para ahli antropolagi, dan mengenai hal ini telah dikembangkan berbagai teori. Dorongan biologis yang mendorong manusia untuk membentuk keturunan bagi kelanjutan keberadaanya di dunia ini muncul pada setiap individu yang normal yang tidak dipengaruhi oleh pengetahuan apapun.
    3. Dorongan untuk bergaul atau berinteraksi dengan sesame manusia, yang memang merupakan landasan biologi dari kehidupan masyarakat manusia sebagai kolektif.
    4. Dorongan untuk meniru tingkah laku sesamanya. Dorongan ini merupakan asal-mula dari adanya beragam kebudayaan manusia, yang menyebabkan bahwa manusia mengembangkan adat. Adat, sebaliknya, memaksa perbuatan yang seragam (conform) dengan manusia-manusia di sekelilingnya.
    5. Dorongan untuk keindahan. Dorongan ini seringkali saudah tampak dimiliki bayi, yang sudah mulai tertarik pada bentuk-bentuk, warna-warni, dan suara-suara, irama, dan gerak-gerak, dan merupakan dasar dari unsur kesenian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s