Melacak Akar Pemikiran Pendidikan Islam

Manusia merupakan makhluk Allah swt. yang sempurna sesuai dengan tugas fungsi dan tujuan penciptaannya sebagai khalifah filard dan terbaik bila dibandingkan dengan makhluk lainnya.

kelebihan manusia bukan hanya sekedar berbeda susunan fisik, tapi juga lebih jauh adalah kelebihan aspek psikisnya dengan totalitas potensinya masing-masing yang sangat mendukung bagi proses aktualitas diri pada posisinya sebagai makhluk mulia. integritas kedua unsur tersebut abersifat aktif dan dinamis sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman di mana manusia berada. dengan potensinya material dan spiritual tersebut, menjadikan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah swt. yang terbaik.secara sistematis pada proposisinya pengetahuan yang mencerminkan pengembangan totalitas kepribadian manusia secara utuh. untuk mengoptimalisasikan seluruh potensi yang dimiliki peserta didik maka, pendidikan harus mampu mengarahkan peserta didik pada pengembangan diri secara totalitas. Islam dengan ajaran yang universal tidak menghendaki adanya sistem pendidikan yang dikotomik parsial dalam menempatklan peserta didik baik teoritis maupun praktis peserta didik manawarkan sistem pensisikan yang integral dan mengempatkan sesuai dengan tuntutan yang digariskan oleh Allah SWT.

 PENGERTIAN

Secara etimologi pemikiran berasal dari kata dasar pikir, berarti proses, cara atau perbuatan memikir yaitu menggunakan akal budi untuk memutuskan suatu persoalan dengan mempertimbangkan segala sesuatu secara bijaksana. Dalam konteks ini pemikiran dapat diartikan sebagai upaya cerdas (ijtihady) dari proses kerja akal dan kalbu untukmelihat fenomena dan berusaha mencari penyelesaiannya secara bijaksana sedangkan pendidikan, secara umum berarti suatu proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau sekelompok orang (peserta didik) dalam usaha mendewasakan manusia (peserta didik),melalui upaya pengajaran dan latihan. Serta proses perbuatan dan cara-cara mendidik. Dengan berpijak pada definisi diatas. maka yang dimaksud dengan pemikiran pendidikan Islam adalah proses kerja akal dan kalbu yang dilakukan secara bersungguh-sungguh dalam melihat berbagai persoalan yang ada dalam pendidikan Islam dan berupaya untuk membangun sebuah peradaban pendidikan yang mampu menjadi wahana bagi pembinaan dan pengembangan peserta didik secara paripurna.

TUJUAN DAN KEGUNAAN

Secara khusus pemikiran pendidikan Islam memiliki tujuan sangat komplek diantaranya adalah :

1. Untuk membangun kebiasaan berpikir ilmiah, dinamis dan kritis terhadap persoalan-persoalan di seputar pendidikan Islam.

2. Untuk memberikan dasar berfikir inklusif terhadap ajaran Islam dan akomodatif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh intelektual diluar Islam.

3. Untuk menumbuhkan semangat berijtihad, sebagaimana yang ditujukan oleh Rosulullah dan para kaum intelektual muslim pada abad pertama sampai abad pertengahan, terutama dalam merekonstruksi sistem pendidikan Islam yang lebih baik.

4. Untuk memberikan kontribusi pemikiran bagi pengembangan sistem pendidikan nasional.

AKAR PEMIKIRAN

Sejarah pendidikan sama usianya dengan sejarah manusia itu sendiri. keduanya tak dapat sipisahkan antara satu dengan yang lain. Manusia tidak akan bisa berkembang secara sempurna bila tidak ada pendidikan untuk itu tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sksistensi pendidikan merupakan salah satu syarat yang mendasar bagi meneruskan dan mengekalkan kebidayaan manusia. Disini, fungsi pendidikan berupaya menyesuaikan kebudayaan lama dengan kebudayaan lama dengan kebudayaan baru secara proporsional dan dinamis. Wacana pemikiran pendidikan Islam masa nabi sudah tentu tidak sesistematis dan secanggih yang ada sekarang ini. Meskipun demikian perhatian umat terhadap ilmu pengetahuan jelas sangat tinggi dan hal ini terwujud sesuai dengan kemungkinan kondisi sosial waktu itu. Ketika di makkah, proses pendidikan Islam dilakukan Nabi dan para pengikutnya di dar al-arqam, sebagai pusat pendidikan dan dakwah. setidaknya ada empat alasan pentingnya pelacakan pendidikan dan sesudahnya, yaitu : pertama, dalam tatanan kehidupan masyarakat yang dinamis, ada upaya pewarisan nilai kebudayaan antara generasi tua kepada generasi muda.bahkan pendidikan seringkali dijadikan tolak ukur layak atau tidaknya manusia menduduki dan melaksanakan amanat Allah sebagai khalifah fi al-ardh. sebagaimana firman Allah SWT.

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang memiliki ilmu beberapa deraja”t. (Q.S. 28 : 11)

Munculnya dinamika penbaruan pemikiran pendidikan yang dilakukan sejumlah intelektual muslim dari masa ke masa, tidak terlepas dari kondisi objektif sosial-budaya dan sosial keagamaan umat Islam itu sendiri. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan, bahwa dinamika pemikiran intelektual muslim merupakan hasil refleksi terhadap kondisi umat Islam pada zamannya. Sederetan intelektual muslim, sejak masa awal sampai pada era posmodernisme telah berupaya merekonstruksi guna terciptanya sistem pendidikan Islam yang ideal. kelompok intelektual muslim tersebut antara lain adalah :

1. Ibnu Maskawih (Ahmad ibn Muhammad ibn Ya’qub ibn Miskawih), lahir di rayy sekitar tahun 320 H./ 432 M. dan meninggal di isfaham pada tanggal 9 safar buwaihi yang berlatarbelakang mazhab syi’ah. Perhatiannya dalam menuntut ilmu sangat besar. Hal ini tercermin dari bidang ilmu pengetahuan yang ditekuninya. Dalam bidang sejarah umpamanya, ia belajar dengan Abu Bakar Ahmad ibn Kamil al-qadhi, filsafat dengan ibn al-khammar, dan kimia dengan Abu Thayyib. Pemikirannya tentang pendidikan lebih berorientasi pada pentingnya pendidikan akhlak. hal ini tercermin dari karya monumentalnya, Tahzib al-akhlaq. melalui karya tersebut Miaskawih menyetakan bahwa tujuan endidikan adalah terwujudnya sikap batin yang secara spontan mampu mendorong lahirnya perilaku dalam memperoleh kerimah-perilaku yang demikian akan sangat membantu peserta didik dalam memperoleh kesempurnaan dan kebahagiaan yang sejati.

2. Ibn Sina (Abu Ali al-Husaiyn ibn Abdullah ibn al-Hasan ibn Sina) lahir pada tahun 370/ 980 di asyanah, Bukhara (dalam peta modern masuknya Turkistan) ia wafat oleh penyakit disentri pada tahun 428/ 1037 dan dimakamkan di Hamadan (sekarang dalam wilayah Iran). Hasil pemikiran dari Ibn Sina diantaranya :

a. Falsafah wujud

b. Falsafah Faidh

c. Falsafah Jiwa

3. Ibn Khaldum (Waliuddin Abdurrahman bin Muhamad bin Muhammad bin Hasan bin Jobir bin Muhammad binIbrahin bin Abdurrahman bin Walid bin Usman) lahir di Tunisia pada tanggal 1 Ramadhan 732 H/ 27 Mei 1332 M dan wafat di Kairo 25 Ramadhan 808 H/ 19 Maret 406 M.

Diantara stressing ruint pemikiran Khaldum adalah pada bidang pendidikan Islam dalam melaksanakan pendidikan, maka menurut Khaldum paling tidak ada dua tujuan yang perlu disentuh yaitu jasmaniah dan rohaniah.

4. Muhammad Abdus ibn hasan Khairuddin, lahir pada tahun 1265 H/ 1849 M. Pada sebuah desa dipropinsi Gharbuyyah-ia lahir dari lingkungan petani sederhana yang taat dan sangat mencintai ilmu pengetahuan.

Menurut Abduh metode yang kuno sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan dewasa ini, sebab metode tersebut menurut tumbuhnya daya peserta didik dalam bukunya al- a’mal al-kamila Abduh menawarkan metode pendidikan yang lebih dinamis dan kondusif bagi pengembangan intelektual peserta didik. Metode yang di maksud adalah metode diskusi.

5. Ismail raji al faruqi, lahir di Sayfa (palestina) pada tanggal 1 Januari 1921. Ia meninggal pada tanggal 1986. latar belakang pendidikannya ditempuh pada pendidikan barat yaitu Colege Des Peres (1936). Kemudian pendidikan pasca sarjana mudanya ia rampungkan pada America University (1941). Kemuudian program magisternya pada Indian University dan harvard University dalam bidang filsafat. sedangkan gelar doktor ia peroleh pada indian university dalam bidang yang sama.

Menurut analisis al-faruq umat Islam saat ini berada dalam posisi yang tidak menguntungkan dan lemah, baik secara moral, politik, dan ekonomi terutama komunitas intelektual dalam wacana keagamaan, umat Islam terbelenggu oleh Khurafal, kondisi ini membuat umat Islam taqlid yang berlebihan terutama dalam aspek syariat. Kondisi ini membuat umat Islam berada dalam kondisi statis dan enggan melakukan kreativitas, ijtihad.

6. Syed Muhammad Waquib al-attas dilahirkan di Bogor Jawa Barat pada tanggal 5 September 1931. Paradigma pemikiran al-attas bila diaji secara historis merupakan sebuah pemikiran yang berasal dari dunia metafisika kemudian kedunia kosmologis dan mermuara pada dunia psikologis, perjalanan kehidupan dan pengalaman pendidikannya memberikan andil yang yang sangat besar dalam pembentukan paradigma pemikiran selanjutnya. Wallahu A’lam nur s

3 thoughts on “Melacak Akar Pemikiran Pendidikan Islam

  1. Islam adalah agama yang sempurna. Ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan. Termasuk di dalamnya adalah masalah pendidikan. Bahkan Islam adalah agama yang memperhatikan masalah pendidikan dan ilmu pengetahuan dengan porsi yang sangat besar. Bahkan keseluruhan ajaran Islam yang bersumber dari Al Quran dan As Sunnah merupakan materi pendidikan dan ilmu pengetahuan yang luar biasa, yang tidak dimiliki oleh agama-agama lain maupun ideologi-ideologi lain. Sejarah mencatata bahwa bangsa Arab yang buta huruf, dengan pendidikan Islam yang khas, yang diterapkan oleh Rasulullah saw., telah berubah menjadi bangsa pelopor yang telah mampu menerangi dunia dan menjadi guru bagi dunia.
    Dalam pergerakan kultural yang dilakukan oleh para Ulama, guru-guru pengajar Al Quran dan As Sunnah, serta hukum-hukum Syariah Islam, yang dilakukan dalam kurun waktu kurang lebih satu abad, hampir 2/3 dunia lama telah mengenyam Islam sebagai agama, budaya, dan hukum, dan khasanah pengetahuan yang baru: tsaqafah Islamiyah. Berbagai bangsa yang beragam agama, adat-istiadat, dan sistem hukum dan perundangannya, menjadi satu umat, satu bahasa, satu hukum, dan satu negara: Islam. Peradaban Islam pun dikatakan sebagai jembatan peradaban yang telah berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan warisan Yunani sehingga dapat sampai kepada masa pencarahan bangsa-bangsa Eropa sehingga menjadikan perkembangan yang luar biasa seperti sekarang. Apa esensi pendidikan Islam, apa tujuannya, dan apa metodenya? Tulisan ini mencoba menguraikannya.

  2. Di zaman kesultanan Islam, mulai dikenal dua sistem pendidikan yakni sistem surau atau langgar dan sistem pondok pesantren. Penyelenggaraan pendidikan di surau atau langgar dikelola oleh tokoh agama secara individu atas dukungan dari masyarakat sekitarnya. Sedangkan di pondok pesantren, penyelenggaraan pendidikan dan pengelolaannya pada masa awal berada dalam kewenangan kesultanan. Sehingga lokasi pondok pesantren pun tidak jarang ditemukan disekitar komplek keraton. Sultan memiliki kontribusi materi yang cukup besar bagi kelangsungan pendidikan di pondok pesantren, demikian juga dengan seleksi para pengajar serta pemberian gajinya. Setelah kekuasaan politik kesultanan atau kerajaan mulai menyusut, pondok pesantren mulai dikelola oleh tokoh agama atau kyai. Hingga pada akhirnya surau maupun pesantren memiliki corak dan gaya yang hampir serupa. Keduanya mengajarkan keberanian dan kemandirian disamping pengajaran ilmu-ilmu agama.
    Di era kolonial Belanda, pondok pesantren memunculkan rasa kekhawatiran bagi politik Belanda di Indonesia sehingga muncul streotipe atau anggapan bahwa pondok pesantren merupakan “sarang pemberontak”. Hal ini dikarenakan keberanian sikap kalangan elit pesantren dalam mengemukakan pemikiran-pemikiran, pendapat serta kebebasan bersikap dan berperilaku mempengaruhi jalannya politik pemerintah Belanda di tanah air. Imej ini juga lebih disebabkan karena kurikulum pengajaran yang cenderung pada politik perlawanan terhadap kolonial yang non muslim. Untuk lebih mempersempit ruang gerak eksistensi institusi pendidikan Islam lebih khusus lagi pesantren, maka pemerintah kolonial Belanda mulai memberlakukan Ordonansi Sekolah Liar atau Undang-undang Sekolah Liar (Wilden School Ordonantie) tahun 1925 dan 1930. Ordonansi ini memuat ketentuan standar kurikulum serta standar pengajar yang secara formal cukup menyudutkan kalangan elit pondok pesantren, terlebih para kyai yang secara keilmuan memiliki kecukupan untuk mengajar namun tidak memiliki sertifikat atau ijazah atas ilmu atau keahlian yang dimilikinya. Inti daripada Ordonansi ini adalah bahwa hanya institusi-institusi pendidikan yang memenuhi ketentuan undang-undang tersebut yang akan memperoleh legalitas penyelenggaraan pendidikan serta bantuan subsidi dari pemerintah. Bagi institusi yang tidak memenuhi persyaratan yang termaktub dalam Ordonansi atau Undang-undang dianggap sebagai sekolah liar dan harus dibubarkan. Kondisi ini mulai mengarahkan pendidikan pada perbaurannya dengan politik pemerintah.
    Jamiatul Khairiyyah yang merupakan organisasi sosial keagamaan yang didominasi oleh para pedagang keturunan Arab, mempelopori penyelenggaraan sistem pendidikan Islam yang modern yang disebut dengan madrasah. Selanjutnya diikuti oleh organisasi sosial keagamaan lainnya seperti Muhammadiyah, Persis, al-Washliyah, Nahdhatul Ulama dan sebagainya.

  3. Dasar pemikiran mereka diantaranya adalah membekali akal dengan pemikiran dan ide-ide yang sehat, baik itu mengenai aqidah dan cabang-cabangnya maupun hukum-hukum, baik yang pokok maupun yang cabang. Islam telah mendorong agar manusia menuntut ilmu dan membekalinya dengan pengetahuan. Allah SWT berfirman:
    “Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”.(QS. Az Zumar 9).
    Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan perbedaan kedudukan antara orang-orang yang berilmu pengetahuan dengan orang-orang yang bodoh. Antara ilmu dan kebodohan itu masing-masing memiliki martabat dan kedudukan di mata masyarakat. Tentu saja orang yang berilmu pengetahuan menduduki tempat yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang-orang yang tak berilmu pengetahuan. Lebih-lebih bilamana orang yang berilmu pengetahua tadi juga beriman dan beramal shalih! Allah SWT menegaskan bahwa Dia SWT memberikan apresiasi yang begitu tinggi terhadap orang yang beriman dan berilmu pengetahuan. Dia SWT berfirman:
    “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS. AL Mujadilah 11).
    Rasulullah saw. mengabarkan betapa tingginya kedudukan orang-orang yang berilmu (ulama) yang mendapatkan kehormatan untuk memberikan syafaat bagi umat pada hari kiamat dengan idzin Allah. Beliau saw. bersabda:
    “Ada tiga golongan yang akan meberikan syafaat (pertolongan di padang mahsyar) pada hari kiamat: (1) para Nabi; (2) para ulama; dan para syuhada.” (HR. Ibnu Majah dari Utsman bin Affan, lihat Fathul Kabir Jilid III hal 424).
    Jelas dalam hadits di atas ulama diletakkan pada nomor urut kedua, yakni setelah para Nabi, lebih dulu daripada para syuhada, dalam hal memberikan syafaat dengan izin Allah SWT.
    Dalam hadits yang lain Rasululla saw. menerangkan bahwa orang yang bergiat mencari ilmu akan mendapat fasilitas jalan ke sorga. Beliau saw. bersabda:
    “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan memudahkan jalannya mencapai surga”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s