Membangun Pendidikan Islam Pluralis

Pendidikan pada hakekatnya adalah sesuatu yang luhur karena di dalamnya mengandung misi kebajikan. Karena suksesnya seseorang dan maju tidaknya suatu bangsa amat tergantung pada tingkat pendidikannya.

Pendidikan tidaklah sekedar proses kegiatan belajar mengajar an sich, melainkan juga sebagai proses penyadaran untuk menjadikan manusia sebagai “manusia”. Dengan kata lain pendidikan merupakan sarana untuk menjadikan manusia sebagai “manusia sadar” yang sesungguhnya.

Akan tetapi, siapa kemudian menyangka tatkala diskursus tersebut teraplikasi dalam bentuknya yang riil seperti dalam bentuk sekolah dan semacamnya, ia kerapkali terseret pada kepentingan. ideologi dan politik. kekerasan khususnya pada pendidikan Islam dalam menyikapi pluralisme agama.

Sejarah telah mencatat, kerusuhan sosial yang berbau SARA di tanah air sering terjdi. Ada keseganan tersendiri untuk menyebut agama sebagai salah satu faktor penyebab konflik dan kerusuhan di tanah air. ada ketidak beraniaan berterus terang mengenai aib sendiri. Sehingga masyarakat tidak perlu lagi mempertanyakan ulang bagaimana sesungguhnya praktik metodologi dalam pendidikan agama. khususnya agama Islam, baik yang menyangkut materi, metodologi di sekolah-sekolah, pesantren-pesantren, diskusi-diskusi dan masyarakat pada umumnya. Dengan demikian upaya untuk memperlunak kekakuan dan mencairkan kebekuan pemikiran keagamaan dan ketegangan hubungan sosial-keagamaan dari masing-masing kelompok penganut agama belum di anggap terlalu penting untuk diarak melalui dunia pendidikan

Dunia pendidikan kita, khususnya pendidikan Islam -sejak era kolonial kemerdekaan dan bahkan era reformasi ini- masih banyak menyisakan persoalan yang tidak pernah diselesaikan. Sistem pendidikan lebih banyak dibangun di atas dekrit kebijakan yang mereproduksi ideologi penguasa kaum borjuis. Bahkan lahir dari rahim kesadaran pembangunan masyarakat baru secara revolusioner dan “visioner”.

Problematika Epistemologis-Metodologis

Selama ini berkembang wacana transmisi pendidikan Islam yang bersifat indoktrinatif yang mengedepankan isi dan muatan materi dan pada proses dan metodologi. Transmisi keilmuan pendidikan Islam mengesankan apa adanya melalui jalan formalitas sehingga anak didik menjadi kaku dan tertutup terhadap perubahan dan perkembangan zaman. Iebih-Iebih mengakui adanya pluralisme agama. Anak didik hanya dikenyangkan dengan pelbagai materi tanpa dipedulikan energi potensial aktual dan ketidakmampuannya dalam membebaskan peserta didik keluar dari ekslusivitas keberagamaan

Wacana kafir-iman, muslim-nonmuslim. baik dan buruk. surga-neraka. seringkali menjadi bahan pelajaran khusus di kelas yang selalu diindoktrinasi dan di paksakan. Inilah salah satu problematis pendidikan Islam ditingkat materi dan metodologinya. Kritisisme sistematik dan paradigmatik keilmuan dalam pendidikan Islam kurang mendapatkan perhatian serius dari para Intelektual Muslim, tokoh pendidikan Islam dan guru ngaji, sehingga sangat berpengaruh terhadap cara pandanag Islam terhadap agama lain.

Dalam sejarah pemikiran Islam, sedikitnya ada tiga konstruksi epistemologis teori pengetahuan. Pertama, pengetahuan rasional sebagaimana dicerminkan oleh Filosof muslim, seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Ibnu Bajjah dan Ibnu Rusyd. Kedua, pengatahuan inderawi (yang terbatas pada sifikasi sumber perolehan ilmu pengetahuan) sebagaimana dipraktekkan dalam empirisme barat Keliga, pengetahuan kasyf yang diperoleh melalui kekuatan intuitif. Di dunia Islam, konstruksi terutama dan ketigalah yang Iebih banyak dilakukan, sementara yang kedua kurang nendapatkan perhatian yang layak sekalipun Al-Qur”an sendiri lebih banyak menekankan perolehan pengetahuan melalui inderaui.

Cara berfikir dan mentalitas dikotomis di atas berimplikasi kepada cara pandang seseorang dalam realitas kehidupan. Seseorang yang menekankan kepada formalitas agama berpandangan bahwa terubahan hanya akan ’menggorogoti’ identitas agama yang sudah diyakini atau kalau bukan ’memurtadkan’ manusia beragama. Sementara orang yang mencoba nengadaptasi setiap perubahan akan merasa ’congkak’ dengan scsuatu yang serba modern dan canggih. faedahnya adalah bagaimana mengawinkan cara berfikir mentalitas ini dalam kerangka integrasi dengan tidak mempertentangkan secara metodologis shifting paradigm masing-masing.

Leonard Swidler, dalam bukunya, Death Or Dialogue, mengatakan. bagi mereka yang masih menggunakan paradigma eksklusif yang lebih cendrung untuk mengisolasi diri dan enggan hidup berdampingan dengan umat agama lain, tidak akan mendapatkan tempat dalam arena kehidupan keagamaan masa kini.

Dalam konteks inilah, pendidikan Islam sebagai media penyadaran umat dihadapkan pada problem bagaimana mengembangkan teologi inklusif dan pluralis, sehingga di dalam masyarakat Islam akan tumbuh pemahaman yang inklusif dan harmonisasi agama-agama di tengah kehidupan masyarakat multikulturalisme. Tertanamnya kesadaran multikulturalis dan pluralitas masyarakat, akan menghasilkan corak paradigma beragama yang hanief dan toleran. Ini semua harus dikerjakan pada level bagaimana membawa pendidikan Islam ke dalam paradigma yang toleran dan inklusif.

Fazlur Rahman (2004) menyatakan pentingnya pendidikan kreatif dan kritis sebagai konsekvvensi basis etik ajaran Islam dalam Al-Qur’an. Maka disarankan adanya pemikiran dan mentalitas yang positif dan kreatif Adanya kebenaran tunggal ini menjadi akar tumbuhnva sistem dan orentasi keagamaan yang indoktrinatif bukan education. Karena itu, pendidikan Islam lebih merupakan indoktrinasi tunggal yang tak mungkin dibantah, akhirnya ruang kelas laksana “penjara” yang pengap tanpa peluang masuknya udara pemikiran kritis dan inovatif

Memimjam istiliah Paulo Freire, diformulasikan dalam fisafat pendidikan, sudah saatnya pendidikan Islam diarahkan pada area pembebasan dari belenggu-belenggu doktrin-paksaan-agama yang eksklusif dan intoleran menuju formulasi pendidikan Islam yang inklusif dan pluralis. Karena sejak awal cita-citanyar pendidikan harus menjadi proses “pemerdekaan” bukan penjinakau sosial budaya (social and cultural domescation) yang diarahkan pada paradigma serba esklusif.

Karena itu, merekonstruksi paradigma dan metodologi pendidikan Islam yang eksklusif adalah tuntutan sejarah yang harus dilakukan secara integral, sistematis, liberatif dan radikal. Sehingga dapat diarahkan dan menumbuhkan sikap dan pola keberagaman yang inklusif dan pluralis untuk menghargai dan menghormati ajaran dan agama lain tanpa konflik, tentu dalam standar umum yang dipandang benar oleh syara’. Wallahu a ‘lam bis-shawab nur s

4 thoughts on “Membangun Pendidikan Islam Pluralis

  1. Although more than 88 percent of the Indonesian population is Muslim, Indonesia is not a religion-based state. Indonesia’s ideology is Pancasila (five principles) which are: belief in the one and only God; just and civilized humanity; the unity of Indonesia; deliberation for consensus; and social justice for all of Indonesia’s people. Pancasila stresses that Indonesia is neither a secular nor religious-based state.
    Pancasila assures that every religion can exist in Indonesia. Yet, Indonesia only recognizes five religions: Islam, Catholicism, Protestantism, Hinduism, and Buddhism. For those religious adherents, Indonesia’s constitution provides for “all persons the right to worship according to his or her own religion or belief” and states that “the nation is based upon belief in one supreme God.”
    However, many conflicts among religions have occurred in the past. Through the inter-religious conference on November 30, 1967, sponsored by the government in order to find some exit strategies regarding social problems that involved religion, the participants came up with the concept of inter-religious harmony. The aim is to foster engagement so that every religious community can live together peacefully and respectfully.

  2. Sulistiana Pergunu 1B

    Membangun pendidikan yang berparadigma pluralis-multikultural merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda lagi. Dengan paradigma semacam ini, pendidikan diharapakan akan melahirkan anak didik yang memiliki cakrawala pandang luas, menghargai perbedaan, penuh toleransi, dan penghargaan terhadap segala bentuk perbedaan.

    Kata pluralis dan multikultural tidak bisa dilepaskan dari kecenderungan dunia yang kian mengglobal. Perbincangan pluralitas dal multikultural lebih banyak berkaitan ddengan aspek agama, sosial, ataupun politik. Sementara yang membahas dari aspek pendidikan relatif lebih sedikit. Oleh karena itu, menjadi hal yang wajar jika terminology pendidikan pluralis-multikultural relatif belum banyak dikenal luas oleh publik.

    “Pendidikan pluralis : pendididkan yang mengandaikan kita untukmembuka visi pada cakrawala yang lebih luas serta mampu melintas batas kelompok etnis atau tradisi budaya dan agama kita, sehingga kita mampu melihat “kemanusiaan” sebagai sebuah keluarga yang memiliki perbedaan maupun kesamaan cita-cita.” (Frans Magnis Suseno)

    “Pendidikan multikultural : proses pengembangan seluruh potensi manusiayang menghargai pluralitas dan heterogenitasnya sebagai konsekuensi keragaman budaya, etnis, suku, dan aliran (agama).” (Ainurrafiq Dawam).
    Penggunaan istilah pluralis-multikultural yang dirangkai dengan kata pendidikan Islam dimaksudkan untuk membangun sebuah paradigm sekaligus konstruksi teoretis dan aplikatif yang menghargai keragaman agama dan budaya.
    Secara lebih terperinci, ada beberapa aspek yang dapat dikembangkan dari konsep pendidikan Islam plurali-multikultural.
    Pertama, Pendidikan Islam pluralis-multikultural adalah pendidikan yang menghargai dan merangkul segala bentuk keragaman. Dengan demikian, diharapkan akan tumbuh kearifan dalam melihat segala bentuk keragaman yang ada.
    Kedua, Pendidikan Islam pluralis-multikultural merupakan sebuah usaha sistematis untuk membangun pengertian, pemahaman, dan kesadaran anak didik terhadap realitas yang pluralis-multikultural.
    Ketiga, Pendidikan Islam pluralis-multikultural tidak memaksa atau menolak anak didik karena persoalan identitas suku, agama, ras, golongan.
    Keempat, Pendidikan Islam pluralis-multikultural memberikan kesempatan untuk tumbuh dan berkembangannya sense of self kepada setiap anak didik.
    Pendidikan Islam pluralis-multikultural terinspirasi oleh gagasan Islam transformatif, berarti Islam yang selalu berorientasi pada upaya untuk mewujudkan cita-cita Islam, yakni membentuk dan mengubah keadaan masyarakat kepada cita-cita Islam : membawa rahmat bagi seluruh alam.
    Landasan Filosofis pelaksanaan Pendidikan Islam pluralis-multikultural di Indonesia harus didasarkan kepada pemahaman adanya fenomena bahwa “Satu Tuhan, Banyak agama”.
    Metode-metode yang dapat diterapkan dalam Pendidikan pluralis-multikultural ; model komunikatif dengan menjadikan aspek perbedaan sebagai titik tekan. Ada metode dialog dan dapat dilakukan dalam bentuk “belajar aktif” yang kemudian dapat dikembangkan dalam bentuk collaborative learning. Selain itu ada pula pembelajaran Exposition teaching yang berpusat pada guru yang masih penting juga dilakukan. Model ceramah sendiri juga dapat dilakukan dan banyak juga variasi dari pada metode ini. Model Theacer centered teaching (demonstrasi).

  3. H.A. Mukti Ali was an Indonesian modern-Islamic thinker and noted as one of the primary experts in comparative religion studies. He was also labeled as a moderate Muslim because of his willingness to respect pluralism, both within Islam and other religions.
    In 1960, he pioneered the idea of inter-religious harmony in Indonesia. Through his position as a minister of religious affairs (1971-1978) he developed a model of inter-religious harmony that was based on Islamic principles of justice, absolute freedom of conscience, the perfect equality among humans, and the powerful solidarity in social interaction. This model was very important at that time because several conflicts occurred that were caused by inter-religious issues. When Mukti Ali stepped down from his position, his successor, Alamsyah Ratu Perwiragara, continued his work modifying Mukti Ali’s thought to become a “Trilogi Kerukanan“ (Trilogy of Harmony). It included harmony among adherents of the same religion, harmony among adherents of different religions, and harmony between religious adherents and the government.
    When Mukti Ali served as a lecturer at the state Islamic Institute Sunan Kalijaga Yogyakarta, he wrote many books, which are: Comparative Religion: Its Method and System, Comparative Religion in Indonesia, The Spread of Islam in Indonesia, Modern Islamic Thought in Indonesia, Religion and Development in Indonesia, Various Religious Problems in Indonesia, The Muslim Muhajir and Muslim Bilali in the United States of America, and The Method of Understanding Islam. Some of his books have become required reading for comparative religion students. He passed away on May 5, 2004 when he was 81 years old.

  4. Nova lailatul munafi’ah PERGUNU 1B
    Kalau tujuan akhir pendidikan adalah perubahan perilaku dan sikap serta kualitas seseorang, maka pengajaran harus berlangsung sedemikian rupa sehingga tidak sekedar memberi informasi atau pengetahuan melainkan harus menyentuh hati, sehingga akan mendorongnya dapat mengambil keputusan untuk berubah. Pendidikan agama Islam, dengan demikian, di samping bertujuan untuk memperteguh keyakinan pada agamanya, juga harus diorientasikan untuk menanamkan empati, simpati dan solidaritas terhadap sesama. Maka, dalam hal ini, semua materi buku-buku yang diajarkannya tentunya harus menyentuh tentang isu pluralitas. Dari sinilah kemudian kita akan mengerti urgensinya untuk menyusun bentuk kurikulum pendidikan agama berbasis pluralisme agama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s