Modern dalam Islam

 Oleh
Zu’ma W Qur’ani
Jurusan Pendidikan Matematika IAIN Sunan Ampel Surabaya

Pembahasan ini meliputi dua arus pemikiran yang selalu dihadapkan sebagai dua buah ideologi besar, yakni Islam dan Barat.

Dalam wacana pemikiran modern, antara Islam dan Barat, titik utama kajiannya terletak pada tataran epistemologis, yakni sumber pengetahuan. Corak pemikiran Islam, sesuai dengan sumber pengetahuannya selalu mengacu pada Al-Qur’an dan Sunnah. Keduanya sebagai epistemologi merupakan pembeda dengan corak pemikiran lainnya. Begitu pun berbagai kajian yang notabene melingkupi berbagai keilmuan Islam. Maka, berbagai kerangka pemikiran yang meniadakan Al Qur’an dan Sunnah tentu tidak dikatakan sebagai pemikiran Islam. Adapun pada tataran aksiologis, pemikiran Islam ataupun Barat akan membias dan hilang corak khasnya jika dihadapkan pada world view masing-masing.

 

Renessains yang terjadi di Eropa pada abad-16, merupakan dasar tombak bagi Barat dalam kemajuannya, terutama dalam lini pemikiran. Kebebasan akal yang menjadi prioritas diusung oleh beberapa tokoh seperti Rene Descartes, August Comte, Imanuel Kant dan Fancis Bacon, mampu menjelma sebagai sebuah hegemoni pemikiran yang sangat terasa gaungnya. Renessains menjadikan Eropa bergerak pesat meninggalkan peradaban lain, khususnya Islam. Inilah dimana Barat memulai kemodernan yang menjadi pengaruh di seluruh dunia, sehingga tak pelak bahwa modern kerap identik dengan Barat.

Kemudian menjadi pertanyaan, dengan tidak menafikan fakta sejarah tersebut, akan banyaknya pemikir Islam yang menggunakan metodologi Barat sebagai bahan kajiannya. Seperti yang dilakukan oleh beberapa pemikir Islam yang pernah mengenyam pendidikan di Barat, seperti Seyyed Hosein Nasr, Ali Syariati dan sebagainya, membuat kita bertanya, apakah modernitas merupakan sesuatu yang ‘haram’ karena ke-Baratannya, dan apakah modern hanya melulu dikalaim sebagai milik Barat.

Modern secara bahasa berarti kekinian. Pengaruh pemikiran Barat (baca; modern) sangat besar dalam pemikiran Islam, sehingga kerap menjadi perdebatan. Penggunaan istilah modern pada para pemikir Islam mempunyai persinggungan erat yang kemudian harus disikapi.

Tidak bisa dielakkan bahwa pengaruh modernisasi yang terjadi pada tubuh Islam merupakan pengaruh Barat. Hal tersebut dapat dilihat pada pembaharu-pembaharu Islam awal seperti Khairuddin dan Thahtahawi yang bersinggungan langsung dengan dunia Eropa. Seperti dikatakan Albert Hourani, mereka lebih melihat ide-ide pencerahan tersebut sebagai penemuan baru yang bisa diadopsi ke dalam Islam. Sebelumnya, pemikiran Islam pra-modern telah melewati masa dimana corak pemikiran sekuler berkembang, yang secara umum keadaan tersebut diakibatkan karena pemikiran Islam yang sempat stagnan, menjadi batu sandungan yang cukup signifikan.

Karena kita berbicara dalam bingkai Islam, maka kemodernan dalam Islam harus Islami, dimana istilah Islami, merupakan sikap yang didasari pada ajaran Islam. Disikapi dan diaktualisasikan sesuai ajaran Islam. Semisal pada bentuk gaya hidup yang dilakukan berdasarkan ajaran Islam, maka gaya hidup tersebut akan disebut Islami. Begitu pula dalam berpakaian, cara berpakaian tersebut kemudian akan dikatakan Islami.

Pembaharuan dalam Islam adalah sesuatu yang menyebabkan para pemikir Islam disebut modern. Dalam Islam pembaharuan akan tetap selalu ada, mengingat Islam itu selalu sesuai pada setiap zaman dan tempat (shahih fi kulli zaman wa makan). Dengan menerima pembaharuan yang datang demi merespon tuntutan zaman menyebabkan Islam tidak akan out off date

Qaidah muqaddamun ala qadimis shalih, wal akhdhu bil jadidil aslah (mendahulukan model lama yang sudah baik dan mengambil model baru yang lebih baik) merupakan prinsip jitu oleh para tokoh pendahulu yang telah diwariskan kepada kita.

Modern merupakan corak pemikiran yang tidak berdasarkan periodisasi waktu tertentu. Zaman Yunani, mereka mengaku sebagai masyarakat yang telah rasional dalam berpikir. Hanya saja rasionalitas yang mereka katakan berdasarkan pemahaman rasionalitas yang mereka pahami. Meskipun pada masanya masih akrab pada pengetahuan yang bersifat mitos, bukan logos, namun mereka telah menganggap pengetahuan telah rasional pada zamannya. Maka modern bukan suatu bentuk pemikiran yang dibatasi oleh waktu melainkan suatu gerak pemikiran yang beyond time and space.

Mengenai penglaiman terhadap para pemikir modern sebagai pemikir yang bebas/liberal tidak sertamerta bisa dijustifikasi begitu saja. Liberal merupakan ciri khas dimana kebebasan akal dipacu dengan sebebas-bebasnya. Kalulah ini yang dimaksud sebagai liberal, maka hampir semua pemikir kontemporer Islam seperti Ali Syari’ati, Nasr Hammid Abu Zaid, Mohammad Arkoun, dan bahkan para filsuf klasik masuk dalam kategori pemikir liberal. Dalam pemikiran Islam, Al Qur’an dan Sunnah menjadi ciri khas akan corak pemikiran tersebut. Di sini menjadi jelas bahwa selama corak pemikirannya masih berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah, maka tidak ada penyebutan liberal, karena dibatasi oleh dua dasar tersebut.

Dengan demikian maka tidak ada pemikir modern Islam yang liberal. Islam merupakan tubuh yang satu. Secara umum, dengan dua sumber Al Qur’an dan Sunnah menjadikan kita bukan dari bagian yang berbeda-beda. Perbedaan yang terjadi bukan menjadikan kita ‘ummat mutafarriqah’ melainkan menjadi kekayaan dalam tubuh Islam sendiri. Selama Islam masih berpegang pada Al Qur’an dan Sunnah maka ia merupakan Ummah Wahidah. Maka janganlah mudah mengklaim terhadap sesuatu yang menyebabkan kita masuk dalam rumusan-rumusan kotak yang menyusahkan.

2 thoughts on “Modern dalam Islam

  1. Bagi kaum santri itu merupakan babak baru, mengingat sebelumnya pendidikan yang ditempuh masih terbatas pada dunia pesantren yang mengkaji ilmu-ilmu kauliyah semata. Dengan dibukanya sistem pendidikan tinggi yang memberikan peluang kepada kaum santri untuk mengeyam pendidikan model Barat yang memberikan ilmu-ilmu kauniyah, menjadikan mereka selangkah memiliki kemampuan untuk mengembangkan keilmuannya, dan lebih jauh dapat turut serta dalam percaturan zaman.
    Tidak seperti kaum priyayi yang larut dalam model pendidikan Barat, atau setidak-tidaknya bisa dibilang menuju demikian, ternyata tidak sedikit kaum santri yang mencoba menjaga jarak dari model pendidikan semacam itu. Mereka tidak begitu saja menyerap ilmu-ilmu sekuler dan melepas baju kesantriannya, tetapi pada aspek-aspek tertentu berupaya menggabungkannya. Untuk mengimbangi keilmuan yang diperoleh dari sistem pendidikan tersebut, mereka berupaya mengkaji Islam secara kaffah baik kauliyah maupun kauniyah, tidak hanya dilakukan secara individual tetepi lebih banyak secara komunal, dalam bentuk kelompok-kelompok studi dan diskusi keislaman
    Kaum santri inilah yang belakangan muncul sebagai cendekiawan muslim. Mereka memiliki ciri-ciri umum seperti cendekiawan lainnya; berwawasan lebih luas dan memiliki bekal ketrampilan profesional yang lebih memadai, mereka suka memproduksi ide, bersikap kritis, kreatif, konstruktif, obyektif, analitis dan bertanggungjawab. Perbedaannya dengan cendekiawan pada umumnya adalah mereka memiliki komitmen iman dan perjuangan cukup tinggi, serta setiap aktivitas yang mereka lakukan berpedoman pada sistem nilai moral ilahiah. Kehadirannya mulai sangat nampak pada tahun 1970-an, yaitu dengan menduduki posisi penting di berbagai instansi, baik pemerintah maupun non pemerintah. Dengan kata lain, budaya kaum santri mengalami pergeseran dari budaya keagamaan ansih –baik yang berfaham toriqot/sufi maupun berfaham qurani– menjadi budaya politik konservatif, kemudian berubah menjadi budaya keilmuan dan ketrampilan profesional yang penuh dengan semangat kerja di berbagai sektor kehidupan, serta tanpa kehilangan ruuhul jihad fii sabiilillah.

  2. Nova lailatul munafi’ah PERGUNU 1B
    Kemajuan sains dan teknologi yang sangat pesat mempunyai dampak yang serius dalam berbagai segi kehidupan. Dampak itu menuntut kita agar menentukan sikap yang tepat dan sesuai dengan nilai ‘insaniyatul -insan’ dengan menciptakan three balance; ruh, akal (rasio) dan jasad. Ketiga unsur tersebut merupakan integritas utuh (setali seikat) yang menolak tindakan dikotomi. Jika benar dikotomi itu terjadi, maka akan hadir karakteristik keilmuan yang justru semakin dipertanyakan timbangan komitmennya ; komitmen ilmiah, komitmen moral dan komitmen spiritual.
    Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi: “Janganlah seseorang diantara kamu menjadi orang yang oportunis yang mengatakan, ‘Diriku tergantung pada manusia,jika mereka baik maka baiklah saya dan jika mereka rusak maka rusaklah saya.'”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s