Organisasi Islam

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang
yang berperang di jalan-Nya dengan barisan
yang teratur, mereka seakan-akan seperti
suatu bangunan yang tersusun kokoh” (QS. As-Shaff : 4)

Secara umum organisasi didefinisikan sebagai sistem yang terdiri dari beberapa orang yang dalam kesuatuannya berjalan secara teratur dan selaras, untuk mencapai tujuan yang ditentukan. Dengan demikian maka suatu tujuan bersama, untuk mencapainya diperlukan pengorganisasian yang baik.

John L. Esposito (seorang ilmuwan yang simpati pada Islam) pernah spontan mengucapkan Oh I See untuk meledek OIC (Organization of Islamic Conference) atau OKI (Organisasi Konferensi Islam, dalam bahasa kita). Ini merupakan bentuk kritik terhadap organisasi Islam terbesar di dunia tersebut dalam merespon berbagai isu yang berkembang di dunia Islam waktu itu, yang memang dalam kenyataannya kurang efektif dan kurang berdaya guna.

Kelemahan OKI dan berbagai oraganisasi Islam lain merupakan representasi dari kelemahan organisasi-organisasi Islam di berbagai negara, termasuk Indonesia. Di mana kebanyakan organisasi Islam lemah dalam hal leadership dan menegerial.

Kenyataan ini menjadikan oraganisasi-oraganisasi Islam yang ada cenderung tak berdaya dan tak mampu menyikapi dengan cepat tentang masalah-masalah yang dihadapi umat. Organisasi kadangkala hanya berfungsi seperti sebuah paguyuban, tempat ngumpul-ngumpul, mengadakan acara-acara yang bersifat seremonial. Tak jarang, organisasi dimanfaatkan oleh para aktivisnya untuk mempunyai daya tawar politik dan ekonomi demi meraih keuntungan secara finansial dan kepentingan pribadi.

Di sisi lain, organisasi kurang memperhatikan proses kaderisasi dengan baik, tanpa memperhatikan kualitas dan integritas. Hal ini membuat organisasi cenderung berjalan di tempat, tak mampu menembus perubahan dan dinamika masyarakat yang kian melesat cepat.

POAC (Planing, Organizing, Activiting and Controlling) dalam teori management modern sekarang, telah banyak dilakukan oleh Nabi saw. Organisasi yang baik telah banyak dicontohkan Beliau misalnya dalam pembentukan Negara Madinah dan dalam berbagai startegi perang waktu itu.

Islam menghendaki organisasi yang kuat dan handal, barisan yang teratur seperti bagunan yang kokoh ( بنيان مرصوص ) dalam ayat di atas menunjukkan akan hal itu, kita ingat pula statemen Sayyidina Ali ra, “kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tak terorganisir”. Wallahu A’lam nur s

2 thoughts on “Organisasi Islam

  1. nama sulistiana pergunu 1B stai alkhoziny
    ORGANISASI KERJA ISLAM
    Bahwa organisasi islam merupakan organisasi internasional non militer yang didirikan di Rabat, Maroko pada tanggal 25 September 1969. Dipicu oleh peristiwa pembakaran Masjid Al Aqsha yang terletak di kota Al Quds (Jerusalem) pada tanggal 21 Agustus 1969 telah menimbulkan reaksi keras dunia, terutama dari kalangan umat Islam. Saat itu dirasakan adanya kebutuhan yang mendesak untuk mengorganisir dan menggalang kekuatan dunia Islam serta mematangkan sikap dalam rangka mengusahakan pembebasan Al Quds. Atas prakarsa Raja Faisal dari Arab Saudi dan Raja Hassan II dari Maroko, dengan Panitia Persiapan yang terdiri dari Iran, Malaysia, Niger, Pakistan, Somalia, Arab Saudi dan Maroko, terselenggara Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) Islam yang pertama pada tanggal 22-25 September 1969 di Rabat, Maroko. Konferensi ini merupakan titik awal bagi pembentukan Organisasi Konferensi Islam (OKI).
    Secara umum latar belakang terbentuknya OKI sebagai berikut :
    1. Tahun 1964: Pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Arab di Mogadishu timbul suatu ide untuk menghimpun kekuatan Islam dalam suatu wadah internasional.
    2. Tahun 1965: Diselenggarakan Sidang Liga Arab sedunia di Jeddah Saudi Arabia yang mencetuskan ide untuk menjadikan umat Islam sebagai suatu kekuatan yang menonjol dan untuk menggalang solidaritas Islamiyah dalam usaha melindungi umat Islam dari zionisme khususnya.
    3. Tahun 1967: Pecah Perang Timur Tengah melawan Israel. Oleh karenanya solidaritas Islam di negara-negara Timur Tengah meningkat.
    4. Tahun 1968: Raja Faisal dari Saudi Arabia mengadakan kunjungan ke beberapa negara Islam dalam rangka penjajagan lebih lanjut untuk membentuk suatu Organisasi Islam Internasional.
    5. Tahun 1969 : Tanggal 21 Agustus 1969 Israel merusak Mesjid Al Agsha. Peristiwa tersebut menyebabkan memuncaknya kemarahan umat Islam terhadap Zionis Israel. Seperti telah disebutkan diatas, Tanggal 22-25 September 1969 diselenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) negara-negara Islam di Rabat, Maroko untuk membicarakan pembebasan kota Jerusalem dan Mesjid Al Aqsa dari cengkeraman Israel. Dari KTT inilah OKI berdiri.
    1. Tujuan Organisasi
    Secara umum tujuan didirikannya organisasi tersebut adalah untuk mengumpulkan bersama sumber daya dunia Islam dalam mempromosikan kepentingan mereka dan mengkonsolidasikan segenap upaya negara tersebut untuk berbicara dalam satu bahasa yang sama guna memajukan perdamaian dan keamanan dunia muslim. Secara khusus, OKI bertujuan pula untuk memperkokoh solidaritas Islam diantara negara anggotanya, memperkuat kerjasama dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan iptek.

  2. Dalam hubungan sosial, komunikasi dapat membentuk saling pengertian antara satu dengan lainnya, dapat menumbuhkan persahabatan, memelihara kasih sayang, menyebarkan pengetahuan dan melestarikan peradaban. Tetapi dengan komunikasi kita juga dapat menyuburkan perpecahan, menghidupkan permusuhan, menanamkan kebencian, merintangi kemajuan dan menghambat pemikiran.
    Komunikasi menjadi penting dalam kehidupan manusia, karena sebagai alat untuk berhubungan sosial. Komunikasi yang baik antara manusia yang satu dengan lainnya, dapat menimbulkan hubungan yang baik pula. Begitu juga sebaliknya, komunikasi yang buruk akan dapat berdampak buruk pula. Oleh sebab itu dalam memilih pola dan bentuk komunikasi diperlukan kecermatan dan ketepatan.
    Pemilihan bentuk dan pola komunikasi ini diperlukan dalam berbagai kelompok sosial, karena diharapkan interaksi sosial yang ditimbulkannya dapat berlangsung dan berhasil baik. Begitu juga dalam lingkungan sekolah. Antara guru dan murid, hendaknya terjadi sebuah jalinan komunikasi yang baik dan ideal pula, agar proses belaja mengajar yang ada dapat berhasil guna dan berdaya guna secara maksimal. Oleh sebab itu diperlukan pemilihan pola komunikasi yang tepat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s