Pendidikan Favorit Cermin Rendah Diri Bangsa

sekolah-sekolah di negara maju seperti di Singapura, Jepang, Amerika, Australia, dan negara-negara Eropa tidak memberi label terhadap anak didik dan lembaga pendidikan, “dia siswa unggul atau itu sekolah unggul”. Ini terjadi

karena program pendidikan mereka sudah terlaksana dengan profesional dan accountable, teruji. Kesadaran warga terhadap kebutuhan pendidikan sudah tinggi. Pemberian label terhadap anak didik dan sekolah, seperti Siswa Sekolah Unggul, Sekolah Perintis, Sekolah Bilingual, Sekolah Akselerasi, Sekolah Plus, Sekolah SSN (Sekolah Standar Nasional), dan Sekolah SBI (Sekolah Berstandar Internasional) mungkin hanya fenomena untuk pendidikan kita. Tujuannya bagus, yaitu untuk meningkatkan mutu pendidikan yang mudah anjlok, untuk membuat warga sekolah yang mempunyai label tersebut bisa termotivasi untuk berprestasi karena punya tanggung jawab menjaga harga diri sekolah, atau untuk menjadi warga sekolah yang exclusive. Atau memang dasar orang kita demam label/ merek dari pada mencari kualitas.

Paradigma kini sudah berubah, sekolah berlabel mungkin untuk sekolah swasta. Bagi sekolah pemerintah cukup dengan sebutan “Sekolah Negeri- SMP Negeri dan SMA Negeri”.Kata kata label atau merek digunakan untuk program pelayanan pendidikan, seperti SMA program akselerasi, SMA program Unggulan, SMA program bilingual dan sebagainya. Lahirnya sekolah-sekolah berlabel- sekolah unggulan- adalah sebagai respon dari kualitas pendidikan kita di level dunia yang sempat memprihatinkan.

Dalam buku L’etat du monde annuaire, annuaire economique geopolitique mondial, diedit oleh Didiot Beatrice, dilaporkan bahwa menjelang tahun 2000 posisi human indicator index atau tingkat Sumber Daya Manusia Indonesia menempati peringkat 102, negara Vietnam yang merdeka lebih akhir dibanding Indonesia satu digit lebih baik dari Indonesia, yaitu 101. Kemudian dalam buku The State of The World Atlas, ditulis oleh Dan Smith (1999) memaparkan bahwa posisi SDM Indonesia menempati peringkat 88 di dunia dan Negara Turkmenistan yang baru merdeka tahun 1991, lepas dari Uni Soviet, posisi SDM nya juga lebih baik satu digit dibandingkan Indonesia, yaitu posisi 87.

Tulisan kedua penulis di atas mencerminkan bahwa kualitas SDM bangsa Indonesia sangat rendah dan memalukan kita sebagai bangsa yang termasuk penduduk terbanyak dan ukuran negara terluas di dunia. Untuk mengatasi masalah tersebut maka pemerintah dan masyarakat merespon dengan cara melakukan pembenahan dan perbaikan di sana-sini. Termasuk dengan cara melahirkan kebijakan pendidikan- program unggulan. Kalau begitu di Indonesia ada beberapa model sekolah.

Ada sekolah negeri yang konvensional yang jumlahnya ribuan, terbentang dari Sabang sampai Merauke. Sekolah konvensional kualitasnya sangat bervariasi, mulai dari sekolah negeri dengan murid pemalas dan motivasi belajar rendah sampai kepada sekolah negeri super berkualitas. Kemudian sekolah swasta yang jumlahnya juga banyak dan tersebar di persada nusantara. Ada sekolah swasta yang hampir punah karena kehabisan murid dan kekurangan dana sampai kepada sekolah swasta super modern di metropolitan, dengan gedung megah dan uang sekolahnya sangat mahal yang dapat dijangkau oleh anak anak cerdas dari keluarga kaya. Kemudian adalah sekolah negeri yang memperoleh keistimewaaan untuk menjalankan program keunggulan dalam bidang pendidikan. Jenis sekolah yang terakhir ini disediakan untuk anak-anak cerdas dari semua tingkat lapisan ekonomi. Para siswa yang belajar di sekolah-sekolah unggul pastilah anak-anak cerdas yang memiliki motivasi belajar yang tinggi.

Tetapi bagaimana visi masa depan mereka setelah lulus dari sekolah unggul dan dari perguruan tinggi favorit pilihan mereka. Ada berbagai kemungkinan yang bisa terjadi pada mereka yaitu menjadi PNS, wirausaha, dan pengangguran. Para pelajar sekolah unggulan juga berkompetisi jadi PNS ? PNS adalah profesi yang sudah dibisikkan oleh guru guru dan orang tua sejak kecil. Coba lihat ketika anak bersekolah di TK dan SD, ada murid yang dikaderkan dalam program dokter kecil dan polisi kecil, tentu saja program ini berguna. Kemudian bila anak-anak sudah bersekolah di tingkat SMP dan SMA, ditanya, maka mereka ingin menjadi Dokter, Bidan, Guru, Staff di Departemen Pemerintah, pokoknya jadi PNS. Orang tua banyak yang separoh memaksa agar kelak anak memilih profesi PNS. “Kalau hanya ingin menjadi PNS, buat apa sih sekolah unggul segala, si Erni Juwita yang dulu hanya sekolah di SMA negeri di desa bisa lulus PNS, sedangkan si Firdaus yang dulu sekolah di SMA unggulan tidak jebol PNS”.

Mengikuti seleksi PNS dan lulus, memang nasib-nasiban. Yang pintar dan rajin sekolah/ kuliah boleh jadi tidak lulus dalam test PNS, sementara yang dulu senang hura-hura dan sekolah asal-asalan bisa lulus. Apalagi sekarang peserta yang tidak pandai, tetapi pandai-pandai (smart street) bisa mencari buku pintar, jurus ampuh untuk lulus test PNS, berisi resep resep soal test yang meliputi test potensi akademik- verbal, numerikal dan spatial. Itulah mengapa kualitas PNS agak beda dengan kualitas kerja mereka yang berada di perbankan, sebagai contoh. Seleksi PNS tidak begitu menjaring semua potensi partisipan. Sementara test menjadi karyawan BUMN lebih ketat, lebih selektif dan banyak prosedurnya- melibatkan psikolog dan proses seleksi yang lebih berkualitas dan sehingga lebih menjaring potensi, the rightman on the right place..

Kalau dahulu orang memandang profesi PNS lebih rendah dari pada profesi berwirausaha, seperti berdagang. Elly Kasim, penyanyi tempo dulu dari daerah Minang, menceritakan tentang hal ini dalam lirik lagunya: “alah ka nasib laki den jadi pagawai, sa bulan gaji indak cukuik untuak sa pakan, tibo dek urang hiduik sanang rasaki murah, tibo dek kito rasaki nan baagakkan”. Sekarang entah siapa yang memulai sehingga kebanyakan masyarakat tetap mengagungkan PNS sebagai profesi impian. “Enak ya jadi PNS, gaji mencukupi dan masa depan terjamin, sakit pun masih menerima gaji”. Doktrin PNS sebagai pekerjaan yang paling menjamin dan pekerjaan dengan status tertinggi masih melekat kuat dalam diri masyarakat.

Cukup lucu dan bisa menyedihkan kalau ternyata sekolah unggul hanya mampu membesarkan dan memotivasi anak didiknya kelak menjadi PNS dan menjadi pegawai swasta. Bagaimana nanti kalau ada yang menjadi pengangguran. Ini terjadi bukan karena bodoh, tetapi karena kalah bersaing dari rekan-rekan mereka yang lihai dan pandai-pandai membaca situasi. Sangat tepat kalau penyelenggara pendidikan di daerah kita bisa belajar bagaimana pelaksanaan proses pendidikan di negara yang lebih maju, misal dari negara tetangga, Singapura. Sarjana berusia muda di negara kecil ini tidak begitu tertarik untuk menjadi pegawai pemerintah. Setiap hari banyak iklan dari departemen pemerintah yang muncul berulang-ulang untuk mencari pegawai negeri. Kebanyakan generasi muda Singapura yang baru lulus dari universitas lebih tertarik pada wirausaha dan kerja swasta. Generasi di sana memiliki sikap berwiraswasta yang sudah mantap. Perwujudan sikap wirausaha yang sebenarnya merupakan implementasi dari sikap budaya terhadap kerja, prestasi, dan kreatifitas.

Kemudian bagaimana dengan keberadaan karakter para pelajar di sekolah-sekolah unggul di negeri kita? Kemungkinan para pelajar dari sekolah unggulan kelak juga tertarik menjadi PNS. Banyak generasi muda mengidolakan PNS dan takut berwirausaha- menciptakan lapangan pekerjaan sendiri dan mengatasi masalah sosial/ masalah pengangguran- terjadi karena mereka kurang mandiri dan berkarakter manja, terbiasa serba banyak dibantu. Sejak Taman Kanak-Kanak mereka tidak diajar mandiri. Bagaimana mereka menghabiskan hari-hari ? kebanyakan anak-anak kurang dilibatkan dalam kegiatan di rumah- membersihkan dan merapikan rumah. Setelah agak besar tidak tahu cara memasak. Malah bagi orang tua yang punya bisnis sampingan seperti berkebun, bertani, beternak, berdagang, ada kalanya anak-anak tidak dilibatkan. Khawatir kalau sekolah mereka terganggu- pada hal alasan ini berpotensi mematikan kreativitas dan life skill mereka. Maka rutinitas para pelajar sekarang cuma pergi sekolah, pergi les, membuat PR, otak atik HP, bermain gitar, main game dan lalu tidur. Hari berikutnya kegiatan yang sama berulang lagi. Ilustrasi di atas memperlihat bahwa kehidupan mereka sangat monoton tanpa ada tantangan hidup. Apalagi orang tua sekarang banyak yang merasa serba khwatir- khawatir anak sakit, terjatuh. Maka mereka cenderung menjadi serba melarang dan pribadi anak tumbuh kerdil karena serba diatur, banyak dilarang dan serba diarahkan. Maka lengkap sudah mereka menjadi generasi manja. Mereka cerdas tetapi, penakut dan miskin dengan pengalaman hidup.

Dewasa ini banyak mahasiswa yang cerdas, wisuda dengan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) hampir empat (4.00) atau cum laude. Namun belum tentu ada jaminan untuk dapat pekerjaan. Cerdas saja, pernah belajar di sekolah unggul, kemudian lulus dari universitas favorit juga belum tentu ada jaminan untuk berhasil, apalagi kalau tidak mempunyai jiwa wirausaha. Sementara itu pintu PNS semakin sempit juga. Maka kemungkinan bagi alumni dari sekolah unggul dan universitas favorit untuk menjadi pengangguran intelektual semakin nyata. Perguruan tinggi seperti UI, IPB, ITB dan UGM adalah perguruan tinggi favorit dan diidolakan oleh hampir semua siswa di Indonesia.

Tetapi tunggu dulu, apa semua yang kuliah di sana sudah dijamin untuk sukses ? Ada beberapa kenalan penulis yang lulus dari sana sempat menganggur selama bertahun-tahun. Namun kini banyak universitas menyadari hal-hal penyebab terjadinya penyakit pengangguran. Maka untuk mewanti-wanti kegagalan mahasiswa, banyak perguruan tinggi membuat program wirausaha, menawarkan program kewirausahaan, mencari kerja, dan membuka lapangan kerja secara mandiri. Sekali lagi, mengingat lulusan perguruan tinggi apakah yang favorit atau non favorit, berpotensi untuk menambah jumlah pengangguran setiap kali terlaksana wisuda. Maka mereka perlu menumbuhkan jiwa wira usaha bagi lulusannya, sering mengadakan kerjasama dengan instansi dan perusahaan berskala nasional dan internasonal, dan melaksanakan lomba-lomba wirausaha. Melakukan pembinaan wirausaha, ada yang sebatas memberikan mata kuliah wirausaha dan, seperti yang dikatakan di atas, bekerja dengan berbagai lembaga atau instansi pekerjaan.

Langkah yang dilakukan oleh berbagai perguruan inggi ini sudah bagus, paling tidak sudah memperkenalkan dan mengajak mahasiswa untuk berwirausaha, bisa menciptakan lapangan kerja sendiri. Namun memperkenalkan wirausaha saat mereka di perguruan tinggi, apalagi saat mereka selesai wisuda, adakalanya sudah sangat terlambat dalam membentuk karakter berani dalam berwirausaha. Karena karakter berani terbentuk paling bagus sejak anak-anak berusia muda, paling kurang pada saat anak belajar di bangku SLTA (SMA, Madrasah dan SMK). Program wirausaha seperti yang dilakukan oleh perguruan tinggi juga sangat tepat bila diperkenalkan di sekolah-sekolah unggulan. Selama ini kegiatan kegiatan ekstra di sekolah unggulan cenderung banyak memompa siswa dengan rumus-rumus olimpiade, pengembangan afektif dan skill hanya sebatas kegiatan otot dan seremonial; olah raga, camping, pramuka, mengikuti lomba mata pelajaran namun tetap kurang terampil dalam mengurus diri, dan masih serba dibantu di rumah. Kini sudah saatnya bagi pengelola sekolah unggulan untuk bisa mengundang para alumni dan tokoh tokoh wirausaha di kabupaten, propinsi, nasional dan kalau perlu dari level internasional untuk memperkenalkan apa dan bagaimana eksistensi wirausaha itu pada pelajar-pelajar di sekolah unggulan. Kemudian sekolah-sekolah ini perlu pula untuk melaksanakan kegiatan wirausaha dengan OSIS, atau sebagai kegiatan ekstra kurikuler; mengunjungi pusat-pusat kegiatan wirausaha/ industri di tingkat kabupaten, priopinsi dan nasional atau internasional. Kembali ke sekolah mereka melakukan presentasi dan bediskusi dan kalau boleh juga melakukan kegiatan wirausaha kecl-kecilan dulu. Ini dalah salah satu strategi efektif untuk memotong wabah pengangguran.

Umumnya para pelajar di sekolah unggulan memiliki semangat belajar yang tinggi dan potensi yang amat besar. Tentu sangat mudah untuk menumbuhkan jiwa berani dan jiwa berwirausaha sejak usia dini. Silakankah mereka belajar sebanyak-banyaknya, kemudian pilihlah universitas favoritnya, selalu pelihara keberanian dan jiwa wirausaha, maka insyaalah kelak mereka bisa dengan jiwa wirausaha bisa menemukan bahan bakar non fosil dalam volume besar, menciptakan perangkat komputer dan laptop murah tetapi berkualitas, mendirikan bengkel perabot berskala internasional hingga mampu menyerap dan sekaligus mengatasi masalah pengangguran, mendirikan pabrik dan bengkel-bengkel kapal laut yang digunakan untuk mengolah potensi laut di tiap propinsi sehingga kita tidak perlu lagi bergantung pada orang lain atau negara lain. Kalau boleh orang lain dan negara lain lah yang bergantung pada kita, sebuah impian penulis dan pemilik blog ini yang setiap malam berdoa untuk itu, salam nur

4 thoughts on “Pendidikan Favorit Cermin Rendah Diri Bangsa

  1. Semenjak manusia berinteraksi dengan aktifitas pendidikan ini semenjak itulah manusia telah berhasil merealisasikan berbagai perkembangan dan kemajuan dalam segala lini kehidupan mereka. Bahkan pendidikan adalah suatu yang alami dalam perkembangan peradaban manusia.

    Dan secara paralel proses pendidikan pun mengalami kemajuan yang sangat pesat, baik dalam bentuk metode, sarana maupun target yang akan dicapai. Karena hal ini merupakan salah satu sifat dan keistimewaan dari pendidikan, yaitu selalu bersifat maju (taqaddumiyyah). Sehingga apabila sebuah pendidikan tidak mengalami serta tidak menyebabkan suatu kemajuan atau malah menimbulkan kemunduran maka tidaklah dinamakan pendidikan. Karena pendidikan adalah sebuah aktifitas yang integral yang mencakup target, metode dan sarana dalam membentuk manusia-manusia yang mampu berinteraksi dan beradabtasi dengan lingkungannya, baik internal maupun eksternal demi terwujudnya kemajuan yang lebih baik .Sebagai contoh nyata dari argumen di atas dapat kita lihat dari dua kenyataan berikut:

    Ketika Uni Sovyet meluncurkan pesawat luar angkasanya yamg pertama spotnic pada 4 oktober 1957, Amerika Serikat tergoncang dengan dahsyatnya. Demam spotnic melanda seantero Amerika. Betapa tidak, karena Amerika adalah negara besar pemenang perang dunia II telah kedahuluan oleh Uni Sovyet. Sampai-sampai presiden AS ketika itu membentuk tim khusus untuk merespon kejadian besar ini. Tim tersebut bukan bertugas menyelidiki kenapa Uni Sovyet berhasil mendahului mereka dalam meluncurkan pesawat luar angkasa, melainkan mereka mendapat intruksi lansung dari presiden untuk melakukan suatu tugas yang tidak disangka-sangka oleh para pengamat politik waktu itu. Tugas mereka adalah meninjau kembali kurikulum pendidikan AS mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai tingkat perguruan tinggi. Dengan bekerja keras dan dalam waktu yang singkat tim tersebut berhasil mengeluarkan statement yang menyatakan bahwa kurikulum pendidikan AS dari semua jenjang pendidikan sudah tidak layak lagi dan harus direvisi. Sebuah keputusan yang teramat berani waktu itu. Tapi itulah sebuah konsekuensi kalau hendak berkompetisi dalam kemajuan peradaban.

  2. Semenjak manusia berinteraksi dengan aktifitas pendidikan ini semenjak itulah manusia telah berhasil merealisasikan berbagai perkembangan dan kemajuan dalam segala lini kehidupan mereka. Bahkan pendidikan adalah suatu yang alami dalam perkembangan peradaban manusia.

    Dan secara paralel proses pendidikan pun mengalami kemajuan yang sangat pesat, baik dalam bentuk metode, sarana maupun target yang akan dicapai. Karena hal ini merupakan salah satu sifat dan keistimewaan dari pendidikan, yaitu selalu bersifat maju (taqaddumiyyah). Sehingga apabila sebuah pendidikan tidak mengalami serta tidak menyebabkan suatu kemajuan atau malah menimbulkan kemunduran maka tidaklah dinamakan pendidikan. Karena pendidikan adalah sebuah aktifitas yang integral yang mencakup target, metode dan sarana dalam membentuk manusia-manusia yang mampu berinteraksi dan beradabtasi dengan lingkungannya, baik internal maupun eksternal demi terwujudnya kemajuan yang lebih baik .Sebagai contoh nyata dari argumen di atas dapat kita lihat dari dua kenyataan berikut:

  3. Kalau kita adakan studi komparatif secara kasar dengan sebagian negara-negara arab yang nota bene negara ketiga seperti negara kita, maka kita akan sedikit tertinggal dari mereka. Padahal sering ejekan dari mulut kita bahwa orang-orang arab tidak lebih maju dari kita. Di Mesir saja tidak ada sarjana S1 yang mengajar di tingkat S1. Minimal tenaga pengajarnya adalah S2, tapi kebanyakan adalah Doktor (S3). Untuk tingkat sekolah menengah tidak ada tenaga pengajar yang lulusan sekolah menengah juga, kebanyakan lulusan S1, bahkan tidak jarang yang sudah magister ataupun lulusan Diploma Khusus (tingkatan setelah S1). Dan tidak jarang pula guru-guru pada tingkat pendidikan dasar pemilik ijazah diploma khusus tadi. Sementara itu di negara teluk terutama Kuwait dan Emirat Arab, mewajibkan tenaga pengajar untuk pendidikan tingkat menengah pertama ke bawah adalah lulusan dari fakultas-fakultas pendidikan. Ini baru perbandingan kasar dengan sebagian negara Arab, apalagi kalau kita bandingkan dengan negara maju seperti Amerika dan Inggris, maka kita akan sangat jauh tertinggal.

  4. Nova lailatul munafi’ah PERGUNU 1B
    Seperti diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi kapitalisme (mazhab neoliberalisme), yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan pendidikan.
    Maka, solusi untuk masalah-masalah yang ada, khususnya yang menyangkut perihal pembiayaan –seperti rendahnya sarana fisik, kesejahteraan guru, dan mahalnya biaya pendidikan– berarti menuntut juga perubahan sistem ekonomi yang ada. Akan sangat kurang efektif kita menerapkan sistem pendidikan Islam dalam atmosfer sistem ekonomi kapitalis yang kejam. Maka sistem kapitalisme saat ini wajib dihentikan dan diganti dengan sistem ekonomi Islam yang menggariskan bahwa pemerintah-lah yang akan menanggung segala pembiayaan pendidikan negara.
    Kedua, solusi teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkait langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan masalah kualitas guru dan prestasi siswa.
    Maka, solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya kualitas guru, misalnya, di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya prestasi siswa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan sebagainya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s