Sekolah Tempat Para Koruptor Dibesarkan

Sekolah yang saya maksud di sini adalah semua jenjang sekolah. Mulai dari tingkat SD sampai dengan tingkat perguruan tinggi. Memang sekilas judul tersebut tampak tidak masuk akal akan tetapi begitulah faktanya.

Bisa dikatakan segala pangkal dari korupsi itu berawal dari institusi pendidikan. Di sanalah para koruptor profesional dibesarkan secara tidak langsung. Hampir sebagian masa muda dan waktu para koruptor pun juga dihabiskan di institusi pendidikan ini. Berikut adalah ulasan lengkapnya.

Berawal dari contek – mencontek

Hampir bisa saya pastikan bahwa semua orang pernah mencontek dalam hidupnya. Baik itu yang pandai, sedang – sedang saja, atau malah yang malas belajar. Semuanya pernah merasakan bagaimana rasanya mendapatkan jawaban dari teman secara ilegal. Sekilas fenomena ini tampak biasa – biasa saja dan normal atau wajar – wajar saja. Bahkan mungkin bila ada anak atau orang yang tidak pernah mencontek sama sekali seumur hidupnya, mereka akan dikatakan sebagai orang yang tidak wajar. Akan tetapi justru dari sinilah permasalahan korupsi di negeri ini bermula.

Mulai dari lempar – lemparan kertas yang berisi lembar jawaban, memperlihatkan lembar jawaban kepada teman, atau mungkin dengan teknologi yang ada sekarang, mereka malahan menggunakan fasilitas telepon seluler untuk mencontek. Semua itu mereka lakukan demi mendapatkan sebuah jawaban atas pertanyaan – pertanyaan ujian yang mereka hadapi. Mereka cenderung takut kalau hal itu diketahui oleh guru ataupun dosen, tetapi mereka tetap saja melakukannya dengan bermacam – macam alasan. Mulai dari alasan ngejar kelulusan, ingin naik kelas, ingin mendapatkan nilai yang bagus, takut kena marah guru dan orang tua dsb.

Aktivitas memanipulasi dan menghalalkan segala cara inilah yang saya maksud dengan awal dari permasalahan korupsi yang memang telah ada “kurikulumnya” di seluruh jenjang sekolah. Dengan alasan apapun tindakan tersebut adalah tindakan yang salah. Meskipun kelihatannya sepele, tetapi di masa depan tindakan itu akan membawa dampak yang besar. Sebagai contoh, pada saat mencontek, seseorang pasti berpikiran “ah kan cuma melihat sedikit, Insya Allah tidak dosa, lagian kan tidak ada orang yang tahu”. Pemikiran seperti ini akan terbawa hingga seseorang itu beranjak dewasa. Pada saat bekerja entah itu sebagai manajer, dirut, ataukah hanya seorang mandor, kebiasaan “ah kan cuma sedikit kok” pasti akan terbawa. Hasilnya, korupsi yang tidak akan pernah berhenti karena setiap anak yang baru lahir harus bersiap – siap untuk memasuki kamp latihan korupsi kecil – kecilan. Maka bagi siapapun yang saat ini masih saja melakukan hal itu, sebaiknya segera memikirkan ulang dan berhenti saat ini juga.

Sebagai sebuah institusi yang akan menentukan maju tidaknya suatu umat dan masyarakat, seharusnya pemerintah menetapkan sistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada hasil semata. Sistem pendidikan yang hanya berorientasi pada hasil semata hanya akan membuat para peserta didik melakukan segala cara untuk mencapai hasil yang diinginkan. Terlebih lagi adanya punish atau hukuman bagi siapa saja yang tidak dapat memenuhi target – target nilai yang ditetapkan oleh institusi pendidikan.

Salah satu alternatif sistem pendidikan adalah pendidikan berbasis pada kepribadian dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan yang berbasis pada kepribadian berarti sistem pendidikan tersebut akan melakukan beberapa proses pendidikan yang akan membentuk pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah). Dengan kata lain, pendidikan tersebut akan membuat seseorang mampu untuk menilai apakah suatu perbuatan itu baik ataukah tidak berdasar pada syariat dan tentu saja bertingkah laku sesuai dengan penilaian tersebut. Secara sederhana konsep ini kita katakan berhasil bila seorang peserta didik memiliki kesesuaian antara tingkah laku dengan apa yang ada di benaknya (kesesuaian antara teori dengan praktek).

Misalnya saja, pendidikan akan dikatakan gagal bila sangat banyak orang yang mengetahui bahwa pacaran itu tidak dibolehkan oleh syariat, tetapi di sisi lain sangat banyak pula orang yang melakukannya. Kita katakan pendidikan seperti ini gagal karena tidak adanya kesesuaian antara apa yang diajarkan dengan apa yang menjadi praktek para peserta didik. Tentu merupakan tanggung jawab institusi pendidikan pula bila terjadi ketidak sesuaian antara teori dan praktek para peserta didik. Pendidikan semacam ini adalah pendidikan yang tidak membedakan antara kehidupan dunia (muamalat) dengan kehidupan agama. Dengan kata lain pendidikan semacam ini adalah lawan dari pendidikan sekuler seperti sekarang ini.

Pendidikan sekuler adalah pendidikan yang tidak atau sedikit sekali mengajarkan pendidikan agama bagi para peserta didiknya. Para penggagas sistem pendidikan ini menilai bahwa agar tercipta kader – kader sekuler yang baik, maka sekolah pun juga harus disekulerisasi. Hasilnya adalah pendidikan agama yang hanya 2 jam perminggu di tingkat SD, SLTP, dan SLTA, ataupun juga pendidikan agama yang hanya 2 sks saja selama seumur hidup seorang mahasiswa berada di kampus. Hasil lain lagi dari sistem pendidikan sekuler semacam ini adalah adanya perguruan tinggi agama, sekolah agama, dan perguruan tinggi umum, ataupun juga sekolah umum.

Maka klop lah sudah, yang pintar agama tidak menguasai iptek, yang pintar iptek tidak menguasai agama. Jadilah hasilnya ketimpangan di mana – mana, dan tentu saja akhir dari itu semua adalah kerusakan di bumi, karena sang “kiai” buta dan sang ilmuwan “keblinger”. Oleh karena itulah pendidikan yang berbasis pada penguatan pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) sangat diperlukan di negeri ini.

Setelah institusi pendidikan mampu memastikan bahwa pola pikir dan pola sikap para anak didiknya bisa dikatakan baik, maka tugas institusi pendidikan yang lain adalah memastikan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bersifat universal. Penguasaan ini sangat penting mengingat salah satu tolok ukur berhasil tidaknya suatu institusi pendidikan adalah ilmu pengetahuan dan teknologi yang lahir darinya. Tanpa hasil apa – apa, institusi pendidikan dipastikan hanya akan menjadi lembaga pengkajian filsafat yang hanya bersifat khayalan semata.

Dengan demikian, output yang diharapkan muncul dari sistem pendidikan yang seperti ini adalah orang – orang yang memiliki aqidah yang kuat, sholeh, serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan yang semacam ini tidak akan menuntut hasil di atas segala – galanya. Yang dituntut dari sistem pendidikan semacam ini adalah sesuainya pola pikir seseorang dengan pola tingkah lakunya yang berdasar pada syariat jugaseberapa keras usaha telah dilakukan oleh seseorang bukan apa yang telah dihasilkan dari proses belajarnya selama ini. Wallahu a’lam nur s

4 thoughts on “Sekolah Tempat Para Koruptor Dibesarkan

  1. Se-abad lebih bangsa kita melalui sebuah fase historis berjargon kebangkitan nasional. Dinamika bangsa pun mengalami pasang-surut. Dunia pendidikan yang notabene menjadi basis pencerahan peradaban bangsa pun telah mengalami fase-fase bersejarah dan telah banyak menghasilkan out-put yang turut mewarnai dinamika perjalanan hidup bangsa dari generasi ke generasi. Kita tidak bisa mengingkari sebuah kenyataan bahwa pendidikan menjadi sebuah entitas yang akan sangat menentukan nasib masa depan bangsa. Namun, secara jujur harus diakui, dunia pendidikan kita masih carut-marut. Persoalannya makin rumit dan kompleks, baik yang berkaitan dengan masalah suprastruktur maupun infrastrukturnya.
    Sementara itu, di tingkat praksis, banyak kalangan menilai, dunia pendidikan kita belum juga bergeser dari persoalan klasik. Pergantian kurikulum, anggaran pendidikan, profesionalisme guru, atau ujian nasional merupakan beberapa contoh persoalan klasik yang terus mengundang perdebatan dari tahun ke tahun.
    Pergantian kurikulum, misalnya, setidaknya negeri kita sudah mengalami tujuh kali perubahan (1962, 1968, 1975, 1984, 1994, KBK, dan KTSP). Celakanya, pergantian kurikulum semacam itu konon bukan berbasiskan semangat visioner untuk membuat bangsa ini cerdas, melainkan lebih dipengaruhi oleh sentimentalisme politis sang menteri yang ingin ”unjuk upeti” kepada sang penguasa untuk menunjukkan bahwa sang menteri layak mengemban tugasnya di bidang pendidikan melalui gebrakan pergantian kurikulum.
    Namun, apakah pergantian kurikulum semacam itu sudah mampu memberikan imbas positif terhadap kemajuan peradaban bangsa? Sudahkah pendidikan di negeri ini mampu melahirkan anak-anak bangsa yang visioner; yang mampu membawa bangsa ini berdiri sejajar dan terhormat dengan negara lain di kancah global? Sudahkah “rahim” dunia pendidikan kita melahirkan generasi bangsa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional, spiritual, dan sosial? Jawaban terhadap rentetan pertanyaan semacam itu selalu saja membuat kita mesti prihatin dan mengelus dada.

  2. Mutu sama halnya dengan memiliki kualitas dan bobot. Jadi pendidikan yang bermutu yaitu pelaksanaan pendidikan yang dapat menghsilkan tenaga profesional sesuai dengan kebutuhan negara dan bangsa pada saat ini. Sedangkan relevan berarti bersangkut paut, kait mangait, dan berguna secara langsung.
    Sejalan dengan proses pemerataan pendidikan, peningkatan mutu untuk setiap jenjang pendidikan melalui persekolahan juga dilaksanakan. Peningkatan mutu ini diarahkan kepada peningkatan mutu masukan dan lulusan, proses, guru, sarana dan prasarana, dan anggaran yang digunakan untuk menjalankan pendidikan.
    Rendahnya mutu dan relevansi pendidikan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor terpenting yang mempengaruhi adalah mutu proses pembelajaran yang belum mampu menciptakan proses pembelajaran yang berkualitas. Hasil-hasil pendidikan juga belum didukung oleh sistem pengujian dan penilaian yang melembaga dan independen, sehingga mutu pendidikan tidak dapat dimonitor secara ojektif dan teratur.Uji banding antara mutu pendidikan suatu daerah dengan daerah lain belum dapat dilakukan sesuai dengan yang diharapkan. Sehingga hasil-hasil penilaian pendidikan belum berfungsi unutk penyempurnaan proses dan hasil pendidikan.
    Selain itu, kurikulum sekolah yang terstruktur dan sarat dengan beban menjadikan proses belajar menjadi kaku dan tidak menarik. Pelaksanaan pendidikan seperti ini tidak mampu memupuk kreatifitas siswa unutk belajar secara efektif. Sistem yang berlaku pada saat sekarang ini juga tidak mampu membawa guru dan dosen untuk melakukan pembelajaran serta pengelolaan belajar menjadi lebih inovatif.

  3. Jika peristiwa tersebut dihubungkan dengan pendidikan, maka pelaksanaan pendidikan akan menimbulkan dampak negatif yang disebut sebagai masalah dan hambatan yang akan dihadapi. Hal ini akan lebih tepat bila disebut sebagai permasalahan Pendidikan.
    Istilah permasalahan pendidikan diterjemahkan dari bahasa inggris yaitu “problem“. Masalah adalah segala sesuatu yang harus diselesaikan atau dipecahkan. Sedangkan kata permasalahan berarti sesuatu yang dimasalahkan atau hal yang dimasalahkan. Jadi Permasalahan pendidikan adalah segala-sesuatu hal yang merupakan masalah dalam pelaksanaaan kegiatan pendidikan.

  4. Nova lailatul munafi’ah PERGUNU 1B
    pendidikan adalah pengalaman yang dengan pengalaman itu, seseorang atau kelompok orang dapat memahami seseuatu yang sebelumnya tidak mereka pahami. Pengalaman itu terjadi karena ada interaksi antara seseorang atau kelompok dengan lingkungannya. Interaksi itu menimbulkan proses perubahan (belajar) pada manusia dan selanjutnya proses perubahan itu menghasilkan perkembangan (development) bagi kehidupan seseorang atau kelompok dalam lingkungannya”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s