Stagnasi Pendidikan Kita

Dengan kesimpulan yang cukup provokatif, salah seorang pemerhati pendidikan di tanah air, Mochtar Buchori, mengungkapkan bahwa “Ilmu Pendidikan di Indonesia mengalami krisis identitas Karena lonceng kematiannya telah

berdentang”. Dalam kaitan ini, H.A.R. Tilaar juga memiliki kesimpulan serupa; “Ilmu Pendidikan di Indonesia dalam kondisi hidup enggan mati tak mau. Menurutnya, kondisi semacam itu disebabkan antara lain oleh politisasi praksis pendidikan tinggi yang seharusnya bertugas mengkaji secara ilmiah konsep-konsep pendidikan telah beralih pada ekspedisi yang trivial tentang praktik-praktik pendidikan.

Selain masalah tersebut, ilmu pendidikan di Indonesia dewasa ini juga masih merupakan “jiplakan” dari buku-buku teks pendidikan yang di dasarkan pada masyarakat Barat atau penelitian-penelitian tentang perkembangan peserta didik dalam masyarakat Barat. Akibatnya, muncul pendekatan pendagoging dan Pendekatan psikologisme dalam perkembangan ilmu pendidikan di tanah air. Pendagogisme adalah pendekatan dalam pendidikan yang menekankan kepentingan peserta didik dan masalah-masalah teknis yang terkait dengannya, tanpa menghiraukan masalah-masalah fundamental, seperti partisipasi masyarakat dalam proses pendidikan. Pendekatan pendagogisme ini akan membawa pengembangan ilmu pendidikan menuju suatu ilmu yang bersifat tertutup karena berkisar pada lingkup “didaktis-metodis” semata. Sementara itu, pendekatan psikologisme adalah pendekatan yang bertumpu pada prinsip-prinsip dan hasil kajian psikologi Barat, sedangkan kajian terhadap perkembangan anak Indonesia yang berbhineke tidak pernah dilaksanakan.

Dengan kata lain, secara epistemologis, pendekatan pendagogisme dan pendekatan psikologisme merupakan wujud cara pandang miopik (menyempit) yang mengerdilkan interkoneksi keilmuan dan cara pandang lepas-konteks sehingga kehilangan “nuansa” keindonesiaannya. Oleh karena itu, tidak salah kiranya jika kemudian terlontar komentar kritis bahwa sebagian banyak ilmu pengetahuan di Indonesia hanya menetapkan (mengadopsi) ilmu-ilmu pengetahuan dari Barat yang belum tentu sepenuhnya cocok bagi bangsa Indonesia.  Salah satu bukti, gagasan indigenisasi ilmu social, sebgaimana pernah dilontarkan oleh Ignas Kleden, kurang memperoleh respons yang memadai dari kalangan ilmuwan Indonesia.

Gejala Psikologisme dalam pendagogik tersebut ternyata juga berimbas pada orientasi dunia pendidikan sekolah kita yang terbukti anti realitas. Sebagai misal, realitas kehidupan ekonomi masyarakat pertanian dan perkebunan, tidak tergarap secara baik oleh ilmu pertanian dan perkebunan yang diajarkan di sekolah-sekolah, sejak dari SD hingga Perguruan Tinggi. Demikian halnya pendidikan agama di sekolah pun kurang menumbuhkan kesadaran positif akan realitas plural kehidupan agama itu sendiri maupun secara eksternal dalam kaitannya dengan agama-agama lain. Oleh karena itu, tak jarang pendidikan agama masih saja diajarkan sebagai bagian dari upaya seseorang untuk memonopoli Tuhan dan kebenaran. Padahal Tuhan dan kebenaran tidak akan pernah dapat do monopoli oleh seseorang atau sekelompok orang, meski mereka adalah ustadz, kiai atau tokoh agama. Akibatnya, realitas plural kehidupan agama belum bisa membuahkan kearifan hidup dalam semangat dialog dan kurang berfungsi sebagai tali perekat persatuan bangsa. Dan kerukunan hidup bangsa karena pluralitas agama sering kali memicu terjadinya beragam konflik dan tindak kekerasan yang seakan tiada pernah habis-habisnya.

Bertolak dari pendapat H.A.R. Tilaar dan al-Kailani di depan, sekurang-kurangnya ditemukan empat hambatan pokok yaitu;

Pertama, Kemandulan konsep. Pada satu sisi, hal ini dikarenakan berbagai konsep pendidikan Islam yang ada pada umumnya masih di impor dari luar (Barat) sehingga konsep pendidikan Islam terkesan tanpa pengembangan.

Kedua, Kurangnya dialog ilmiah. Hasil penelitian hanya akan dapat berkembang dan mengundang tanggapan apabila di sebarluaskan. Bermula dari penyebarluasan ini, selanjutnya amat mungkin untuk membengun suatu ilmu yang di dasarka pada dialog-dialog ilmiah.

Ketiga, Isolasionalisme pemikiran. Dengan kata lain, pengembangan dan penelitian pendidikan tidak dapat dilaksanakan sendiri-sendiri dan terkontak-kontak, baik oleh pakar pendidikan maupun oleh pakar di bidang lainnya.

Keempat, dualisme action versus research sebagai bagian dari suatu disiplin keilmuan “Praksis”, teori-teori pendidikan Islam. Konseptualisasi pendidikan Islam sangat terasa kurang mempunyai perspektif empirisdan orientasi praksis karena begitu dominannya pendekatan tekstual-normatif. Bahkan, hal itu berdampak pada penyelenggaraan penidikan Islam dilapangan, dari jenjang tingkat dasar sampi jenjang perguruan tingginya. Wallahu A’lam nur s

3 thoughts on “Stagnasi Pendidikan Kita

  1. Kalau kita mengamati pendidikan di Indonesia maka kita akan mendapatkan beberapa fenomena dan indikasi yang sangat tidak kondusif untuk mewujudkan Indonesia menjadi negara maju dalam bidang pendidikan apalagi dalam bidang ekonomi. Fenomena dan indikasi tersebut antara lain:
    Fenomena ini dapat ditangkap dengan mudah oleh siapa saja yang memiliki sedikit wawasan mengenai kependidikan. Walaupun tentunya penelitian ilmiah mengenai masalah ini sangat perlu dilakukan agar kesimpulan yang diambil lebih bernilai objektif. Namun secara sederhana dapat kita ketengahkan beberapa indikasi umum yang diketahui oleh banyak orang. Berdasarkan jenjang pendidikan yang telah diselesaikan oleh para pendidik, dapat kita temukan kondisi berikut ini: para guru di tingkat pendidikan dasar di Indonesia sangat jarang diantara mereka yang memiliki ijazah strata satu (S1). Rata-rata adalah tamatan sekolah menengah atau sarjana muda. Untuk tingkat pendidikan menengah pertama dan atas, maka akan kita temukan juga kondisi yang hampir sama. Tenaga pengajar ditingkat ini kebanyakan sarjana muda dan sedikit sekali yang merupakan sarjana penuh. Dan bisa dikatakan tidak ada diantara mereka yang tamatan S2. Selanjutnya untuk tingkat perguruan tinggi secara umum, dan jenjang S1 secara khusus, masih banyak sekali dosen yang hanya tamatan S1. Dalam waktu yang sama sangat jarang dosen yang bergelar Doktor mengajar di tingkat ini. Bahkan diantara dosen-dosen yang hanya memiliki ijazah S1 tersebut kadang kala tidak mengisi mata kuliahnya, tetapi digantikan oleh asistennya yang biasanya adalah mahasiswa/ mahasiswi tahun terakhir yang berprestasi atau sarjana baru.

  2. Akibat dari pelaksanaan pendidikan tersebut adalah menjadi sekolah cenderung kurang fleksibel, dan tidak mudah berubah seiring dengan perubahan waktu dan masyarakat. Pada pendidikan tinggi, pelaksanaan kurikulum ditetapkan pada penentuan cakupan materi yang ditetapkan secara terpusat, sehingga perlu dilaksanakan perubahan kearah kurikulum yang berbasis kompetensi, dan lebih peka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
    Rendahnya mutu dan relevansi pendidikan juga disebabkan oleh rendahnya kualitas tenaga pengajar. Penilaian dapat dilihat dari kualifikasi belajar yang dapat dicapai oleh guru dan dosen tersebut. Dibanding negara berkembang lainnya, maka kualitas tenaga pengajar pendidikan tinggi di Indonesia memiliki masalah yang sangat mendasar.
    Melihat permasalahan tersebut, maka dibutuhkanlah kerja sama antara lembaga pendidikan dengan berbagai organisasi masyarakat. Pelaksanaan kerja sama ini dapat meningkatkan mutu pendidikan. Dapat dilihat jika suatu lembaga tinggi melakukan kerja sama dengan lembaga penelitian atau industri, maka kualitas dan mutu dari peserta didik dapat ditingkatkan, khususnya dalam bidang akademik seperti tekonologi industri.

  3. Semenjak munculnya, ajaran Islam yang dibawa Rasulullah saw. telah banyak memberikan sumbangan kepada dunia Arab khususnya dan seluruh dunia pada umumnya, baik semenjak zaman Rasulullah saw sendiri hingga zaman modern saat ini. Dari sejak munculnya hingga saat ini banyak tokoh-tokoh dan ilmuan muslim yang lahir dan memberikan pengaruh besar terhadap khazanah keilmuan dan peradaban dunia, terlebih lagi ketika zaman keemasan Islam.
    Saat ini banyak hal yang telah dapat dinikmati dan kita gunakan dari hasil pemikiran para tokoh-tokoh muslim terdahulu, baik di bidang kesehatan, politik, sosial, budaya, keilmuan dan lain sebagainya. Hasil pemikiran mereka tidak kalah dengan apa yang dihasilkan oleh para pemikir-pemikir barat, bahkan banyak ilmuan-ilmuan barat yang justru mengambil hasil fikiran para pemikir-pemikir muslim dan dianggap menjadi hasil produk pemikiran mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s