Tasawuf Itu “Profan”

Beberapa dampak negatif yang merupakan konsekwensi dari arus transformasi nilai-nilai budaya modern di antaranya adalah :

  1. Hilangnya rasa malu dalam berbuat kemaksiatan
  2. Lemahnya kontrol masyarakat.
  3. Lajunya arus budaya Barat yang negatif
  4. Media informasi yang tidak mendidik

Ketika istilah tasawuf dihadapkan dengan modernitas pada era modern ini, benturan yang paling nyata adalah penilaian bahwa tasawuf dan masyarakat modern adalah dua sifat yang berbeda atau bahkan bertolak belakang. Ajaran tasawuf sering dianggap “berseberangan” dengan nilai-nilai hidup masyarakat modern. Kemasan tasawuf dalam konsep maqamat dan  ahwal, dianggap sebagai aspek ajaran Islam yang mewariskan etika kehidupan yang sederhana, zuhud, menjauhi dunia, pasrah dan kerendahan hati, cinta sejati tanpa pamrih, dan lain sebagainya hanya cocok untuk diaplikasikan pada kehidupan tradisional. Ia tidak dapat diterapkan di dunia modern sebab dunia modern lebih banyak dimuati dunia glamor, pemujaan materi, persaingan keras disertai intrik dan tipu daya, keserakahan, cinta dunia, keangkuhan, kekerasan, saling memakan, saling menjegal antara sesama, dan sebagainya.

Sebenarnya, tuduhan bahwa sufisme menolak atau mengabaikan kehidupan duniawi tidak dapat dibenarkan kecuali dalam kasus-kasus tertentu yang jumlahnya sangat kecil. Sufisme yang benar adalah mementingkan keseimbangan antara jasmani dan rohani, lahiriah dan batiniah, antara spirituil dan meteril, antara duniawi dan ukhrawi.

Islam tidak mengajak kepada pengingkaran duniawi, bahkan Islam mengajak kepada pemenuhan kebutuhan hidup, baik materi maupun spirituil. Kemajuan dimensi spirituil hanya bisa dicapai melalui hidup yang saleh di tengah hiruk pikuk kehidupan sehari-hari, bukan dengan mengingkari kehidupan duniawi. Inilah ajaran sufisme yang benar. Bahkan dalam Al-Qur’an terdapat sebuah doa: “Wahai Tuhan kami! Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat nanti” (QS. Al-Baqarah [2] :210).

Dan sebaliknya celaan Allah terhadap orang-orang yang menolak untuk menikmati karunia-Nya. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman: “Katakanlah: Siapakah yang mengaharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan rizki yang baik” (QS. Al-A’raf [7] : 32). Pada bagian lain garisan yang diberikan Tuhan adalah: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A’raf [7] : 31).

Secara historis, menunjukkan bahwa pada umumnya para sufi tidak menjauhi kehidupan duniawi. Mereka memberikan sumbangan yang besar bagi kehidupan sosial kemasyarakatan. Dalam bidang pendidikan misalnya, peran sufi seperti Khawajah Nizam al-Mulk, Wazir Dinasti Saljuk, berpartisipasi langsung membangun universitas-universitas atau madrasah. Hal yang sama juga terdapat di kalangan sufi di Indonesia.

Dalam bidang politik dan militer, peran sufi tidak kalah pentingnya. Tarekat-tarekat sufi berperan menjadi kekuatan politik di banyak negara Islam. Tarekat Safawi misalnya berubah dari gerakan spirituil semata menjadi gerakan politik dan militer, yang akhirnya berhasil mendirikan kerajaan Safawi di Persia. Hal yang sama misalnya peran para sufi dalam menumpas penjajah kolonial di Indonesia, sehingga semangat sufisme mempunyai sumbangan besar bagi pencapaian kemerdekaan negara Indonesia ini. Historical fact ini adalah bukti yang tidak bisa dibantah bahwa untuk mengatakan ajaran tasawuf anti keduniaan, sama sekali tidak beralasan. Jika pun ada dalam praktek sekelompok orang, itu adalah disebabkan kurangnya pemahaman akan makna tasawuf itu sendiri.

Dunia sekarang mendambakan kedamaian hidup. Bukan saja kedamaian rumah tangga, antar tetangga dan kelompok masyarakat, dan stabilitas nasional, tetapi sampai pada kedamaian internasional. Kedamaian seberapapun kecil dan besar skalanya akan dapat diterima hanya jika sifat-sifat keserakahan dapat diredam oleh setiap orang pada dirinya. Bagi umat Islam, sifat-sifat tersebut dapat dihilangkan hanya jika seseorang telah menghayati dan menyadari sepenuhnya sifat-sifat sabar, tawakal dan ridha yang diajarkan oleh Islam dan yang menjadi maqamat atau station di kalangan kaum sufi menuju Tuhan.

Munculnya tasawuf atau sufisme sebagai alternatif yang terpilih untuk meresponi kemiskinan spiritual masyarakat modern, sesungguhnya sangat beralasan karena sufisme mengajarkan hal-hal yang cukup rasional. Pemahaman ajaran agama secara rasional ditambah dengan pelaksanaannya secara formal tidak cukup menjamin kesetiaan orang pada agama yang dianutnya. Pemahaman dan formalitas agama tidak membawa orang merasakan nikmatnya beragama, bahkan mungkin hanya membuat orang merasa terbebani dengan berbagai ketentuan normatif dari agama yang dianutnya sendiri.

Oleh sebab itu, tasawuf menjadi pilihan, karena bentuk kebajikan spiritual dalam tasawuf telah dikemas dengan filsafat, pemikiran, ilmu pengetahuan dan disiplin kerohanian tertentu berdasarkan ajaran Islam. Nilai-nilai spiritual yang digali dari sumber formal, seperti Al-Qur’an dan hadits, dan dari pengalaman keagamaan telah dikembangkan para sufi sebelumnya.

Untuk itu, yang patut diperhatikan ialah bagaimana membumikan dalam arti mengamalkan secara aplikatif nilai-nilai spiritual maqamat dan ahwal di tengah dinamika modernitas kehidupan manusia.

Di sini, misalnya, pengertian zuhud tidak terlalu diasosiasikan dengan penyendirian dan pertapaan untuk menyatu dengan Tuhan, tetapi penyucian diri bagi setiap orang yang terlibat dan turut mengalami dinamika dunia modern. Sufi di zaman modern ialah orang yang mampu menghadirkan ke dalam dirinya nilai-nilai Ilahiyah yang memancar dalam bentuk perilaku yang baik dan menyinari kehidupan sesama manusia. Inilah makna hadits   خير الناس أنفعهم للناس

Artinya: “Sebaik-baik manusia ialah manusia yang lebih bermanfaat bagi sesama manusia.”

Kesan bahwa sufi harus menjauhkan diri dari masyarakat dan sibuk dengan ibadahnya sendiri, seperti yang digambarkan oleh sebagian pihak, bahwa untuk mengamalkan praktik kesufian hanyalah dengan penyendirian dengan tujuan menyatu dengan Tuhan, tampaknya merupakan hal yang kurang relevan. Kenyataannya beberapa pendiri tarekat hidup dalam kemewahan di antara yang terkenal adalah Abu Hasan Ali As-Sadzily pendiri Tarekat Sadziliyah, di mana penulis merupakan salah satu pengikutnya dari jalur Pondok PETA Tulungagung, salah satu ujarnya yang terkenal adalah Aarif billah, ‘isy ma syi’ta makrifatlah kepada Allah dan hiduplah sesukamu, artinya dalam kehidupan dunia kita boleh menjadi apapun, memiliki apapun dan bergaya hidup apapun, asalkan ma’rifat kepada Allah. Tarekat ini penulis anggap sebagai pandangan beliau yang futuristic sehingga ia akan mampu melingkupi semua kehidupan manusia sepanjang zaman.

Untuk itu, diperlukan orientasi baru berupa penghadiran nilai-nilai Ilahi dalam perilaku keseharian manusia modern, sehingga peran agama yang menghendaki kesucian moral terasa sangat perlu. Hal ini berarti, pengamalan ajaran agama tidak cukup jika hanya bersifat rasional dan formal tanpa kesadaran, yang meminjam istilah Gus Dur kur pinter ndongeng, sehingga diharapkan nantinya setiap muslim dapat merasakan nikmatnya beragama, yang di dalamnya terkandung kecintaan kepada Tuhan sekaligus kecintaan kepada sesama manusia dan makhluk.

Untuk itu, tasawuf di abad modern tidak lagi berorientasi murni kefanaan untuk menyatu dengan Tuhan, tetapi juga pemenuhan tanggung jawab manusia sebagai khalifah Tuhan yang harus diembannya. Dengan kata lain, tasawuf tidak hanya memuat dimensi kefanaan yang bersifat teofani, tetapi juga berdimensi profan yang di dalamnya terdapat kepentingan sesama manusia yang mendunia. Wallahu A’lam nur s

4 thoughts on “Tasawuf Itu “Profan”

  1. Dalam konteks pendidikan praktik-praktik kapitalisme dan pelanggaran moral ironisnya juga dilakukan oleh sebagian insan dan institusi penyelenggara pendidikan dengan menjadikan kewenangannya untuk menaikan pendapatan. Keberhasilan sebuah lembaga pendidikan selalu diukur dari megahnya gedung, mahalnya biaya, banyaknya peminat dan seberapa banyak alumninya yang menjadi pejabat. Materialisasi pendidikan inilah yang menjadi landasan awal terjadinya materialisasi dalam semua aspek kehidupan. Jati diri sebagai bangsa yang suka bergotong royong, saling tolong menolong dan kekeluargaan menjadi terkoyak karena semua pola hubungan serba diukur dengan materi. Lalu bagaimana jika pendidikan nasional sebagai lokomotif utamanya tidak memiliki jati diri dan sarat dengan orang-orang yang mengalami krisis jati diri? Jati diri bangsa macam apa yang diharapkan mendapatkan kontribusi dari dunia pendidikan? Karakter tasawuf jawabannya !!

  2. وذهب إلى هذا الرأي فريد الدين العطار المتوفى 586 هـ تقريبا نقلا عن بشر الحافي
    ونقل عن الحسن البصري رحمة الله عليه أنه قال : رأيت صوفيا في الطواف فأعطيته شيئا فلم يأخذه وقال معي أربع دوانيق يكفيني ما معي ويشيد هذا ما روى عن سفيان أنه قال لولا أبو هاشم الصوفي ما عرفت دقيق الرياء . وهذا يدل على أن هذا الاسم كان يعرف قديما وقيل لم يعرف هذا الاسم إلى المائتين من الهجرة العربية .
    ورجح الرأي الأخير أبو المفاخر يحيى الباخرزي .ونجم الدين كبرى رجح كون كلمة التصوف مشتقة من الصوف, وأضاف بأن أول من لبس الصوف آدم وحواء , لأنهما أول ما نزلا في الدنيا كانا عريانين , فنزل جبريل بالخروف فأخذا منه الصوف , فغزلت حواء ونسجه آدم ولبساه , وكذلك موسى عليه السلام لبس الصوف , وأن يحيى وزكريا ونبينا محمدا صلى الله عليه وسلم أيضا كانوا يلبسون الصوف .
    ونسبة الصوفي إلى الصوف , وإذا ألبس الصوف طلب من نفسه حقه , لأن الصوف مركب من الأحرف الثلاثة : الصاد , والواو , والفاء , فيطلب من الصاد العبر والصلابة والصدق والصلاة , ويطلب من الواو الوفاء والوجد , وبالفاء الفرج والفرح .
    ويترشح أيضا من كلام أبي طالب في قوته بأنه أيضا من الذين يرحجون اشتقاقه من الصوف , حيث يورد رواية مكذوبة على رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال😦 البسوا الصوف , وشمروا , وكلوا في أنصاف البطون تدخلوا في ملكوت السماء ) .

  3. Doktor Sabir Tu’aimah menulis dalam bukunya: As-Sufiyah, mu’takadan wamaslakan (Sufi dalam aqidah dan prilaku): “Tampaknya tasawuf merupakan akibat dari adanya pengaruh kependetaan dalam agama Nashrani yang pada waktu itu para pendetanya mengenakan pakaian wol dan mereka banyak jumlahnya, yaitu golongan orang-orang yang total melakukan prilaku tersebut di negeri-negeri yang dimerdekakan Islam dengan pengaruh tauhid, semuanya memberikan pengaruh yang tampak pada prilaku generasi pertama dari kalangan tasawuf
    Syaikh Ihsan Ilahi Zahir –rahimahullah- dalam kitabnya: Tashawwuf Al-Mansya’ Walmashdar (Tasawuf, Asal Muasal dan Sumber-Sumbernya) berkata: “Jika kita amati ajaran-ajaran tasauf dari generasi pertama hingga akhir serta ungkapan-ungkapan yang bersumber dari mereka dan yang terdapat dalam kitab-kitab tasauf yang dulu hingga kini, maka akan kita dapatkan bahwa disana terdapat perbedaan yang sangat jauh antara tasauf dengan ajaran-ajaran Al-Quran dan Sunnah, begitu juga kita tidak akan mendapatkan landasan dan dasarnya dalam sirah Rasulullah serta para shahabatnya yang mulia yang merupakan makhluk-makhluk Allah pilihan. Bahkan sebaliknya kita dapatkan bahwa tasawuf diadopsi dari ajaran kependetaan kristen, kerahiban Hindu, ritual Yahudi dan kezuhudan Budha

  4. Memang benar bahwa cinta merupakan hal yang sangat asasi untuk beribadah, akan tetapi ibadah tidak semata-mata berlandaskan cinta sebagaimana yang mereka sangka, dia merupakan satu sisi dari sekian banyak sisi selainnya, seperti rasa takut (khouf), harap (roja), merendah (Dzul), tunduk (Khudhu’), doa dan lain-lain. Ibadah adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh syekhul Islam Ibnu Taimiyah :

    إِسْمٌ جَامِعٌ لِمَا يُحِبُّهُ اللهُ وَيَرْضَاهُ مِنَ اْلأَقْوَالِ وَاْلأَعْمَالِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ
    “Ungkapan yang meliputi setiap apa yang Allah cintai dan ridhoi baik dalam ucapan maupun perbuatan, yang zhahir (tampak) maupun yang bathin (tidak tampak)”.

    Al Allamah Ibnu Qoyim berkata :

    وَعِبَـادَةُ الرَّحْمَنِ غَـايَةُ حُبِّهِ
    مَـعَ ذُلِّ عَـابِدِهِ هُمَا قُطْبَانِ
    وَعَلَيْـهِمَا فَلَكُ الْعِبَـادَةِ دَائِرٌ
    مَـا دَارَ حَتَّى قَامَتْ الْقُطْبَانُ
    Menyembah Allah merupakan puncak kecintaannya
    Bersama kerendahan hamba-Nya, keduanya merupa-kan dua kutub
    Dan diatas keduanya rotasi ibadah berputar.
    Dia tidak berputar sebelum keduanya tegak.

    Karena itu sebagian salaf berkata:
    مَنْ عَبَدَ اللهَ بِالْحُبِّ وَحْدَهُ فَهُوَ زِنْدِيْقٌ، وَمَنْ عَبَدَهُ بِالرَّجَاءِ وَحْدَهُ فَهُوَ مُرْجِئٌ، وَمَنْ عَبَدَهُ بِالْخَوْفِ وَحْدَهُ فَهُوَ حَرُوْرِيٌّ، وَمَنْ عَبَدَهُ بِالْحُبِّ وَالْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ مُوَحِّدٌ.
    “Siapa yang beribadah kepada Allah dengan cinta semata maka dia adalah zindiq, dan siapa yang beribadah kepada Allah dengan raja’ [harapan] semata maka dia adalah murjiah dan siapa yang beribadah kepada Allah dengan takut semata maka dia adalah haruri, dan siapa yang beribadah kepada Allah dengan cinta, harap dan takut, maka dia adalah mu’min sejati”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s