Watak Kolonial Islam Terdidik

Setidaknya, selama ini mazhab Islam Liberal (Islib) yang dimotori oleh Kang Ulil Abshar-Abdalla (Kang Ulil), telah banyak diperbincangkan oleh khalayak, terutama oleh kelas menengah terdidik.

Entah mengapa, cukup banyak kelas menengah terdidik (muslim) yang terpesona oleh Islib, padahal jika dirunut di peta pemikiran Islam internasional, yang bernama Islam Liberal bukanlah barang baru yang orisinal. Artinya, Islam Liberal bukanlah “makhluk” yang istimewa. Islam Liberal, diakui atau tidak, sebenarnya merupakan modifikasi dan kelanjutan belaka dari dua mazhab pemikiran sebelumnya, yaitu Modernisme Islam dan Neo-Modernisme Islam.

Kelas menengah terdidik di tanah air tampaknya gampang terpesona oleh hal-hal yang lagi ngetrend dan jadi mode, termasuk soal mazhab pemikiran. Sebut saja diantaranya: Modernisme, Neo-Modernisme, Post-Modernisme, Kiri Islam, Post-Tradisionalisme, dan sebagainya. Kini Islam Liberal masih sedang digandrungi, meskipun saat ini daya pikatnya perlahan meredup.

Mungkin saja tidak lama lagi Islam Liberal akan menghilang dari peredaran, sebagaimana banyak mazhab-mazhab pemikiran sebelumnya. Serentak dengan berkibar-kibarnya Islam Liberal, muncul juga mazhab pemikiran lain yang disebut Post-Tradisionalisme Islam. Semua mazhab pemikiran itu datang dan pergi, menjadi mode dan trend layaknya fashion, model rambut, kendaraan, atau peralatan rumah tangga, untuk kemudian menghilang tanpa bekas. Kelas menengah terdidik kita tampaknya mengidap kekenesan dan “kelatahan”, karena sedemikian mazhab pemikiran yang pernah menjadi mode dan trend di kalangan kelas menengah terdidik itu, tidak pernah mengubah apapun dan tidak mendorong transformasi (sosial) apapun.

Jaringan Islam Liberal (JIL) yang dimotori Kang Ulil dan terorganisir secara cukup baik, didukung dengan dana dan jaringan publikasi yang cukup luas, agaknya mampu mendesakkan mazhab Islib ke ruang publik. Banyak kelas menengah terdidik muslim yang “demam” Islib. Kang Ulil pun diundang ke mana-mana untuk berbicara tentang Islam dan Islib. Kang Ulil lantas menjadi “selebritis intelektual” baru yang namanya makin berkibar.

Apresiasi terhadap Islib membuahkan pro dan kontra. Yang kontra misalnya dari golongan yang selama ini dicap sebagai Islam “fundamentalis”, “literalis”, dan “ekstrem”. Bahkan sudah terbit beberapa buku dari kubu Islam Literalis yang mengcounter paham Islib. Tapi, sejauh ini tampaknya belum ada kritik mendasar yang agak luas dan terarah terhadap Islib, selain hanya kritik-kritik selintas yang kurang tajam.

***

Mazhab Islam Liberal, yang merupakan lanjutan dan modifikasi dari mazhab Islam sebelumnya, yaitu Modernisme Islam dan Neo-Modernisme Islam, tampaknya merupakan mazhab pemikiran dan gerakan yang berspektrum luas. Jika disederhanakan, maka wacana Islib menjangkau entitas agama (khususnya Islam) dan kebudayaan. Islib merupakan salah satu mazhab pemikiran agama dan kebudayaan yang coba mengekspresikan—jika agak disederhanakan—kemodernan, humanisme, pemeradaban, dan pembebasan. Nilai-nilai yang diusung Islib, antara lain: pluralisme, multikulturalisme, toleransi, emansipasi, sekularisme dan demokrasi.

Dalam soal pluralisme, multikulturalisme, dan toleransi, Islib menggarisbawahi bahwa Islam yang riil dalam sejarah dan diekspresikan manusia sangat banyak ragamnya, bahkan tidak terbatas. Antara berbagai jenis Islam dan warna-warni Islam yang amat beragam sebaiknya saling memahami dan toleransi. Perbedaan dan keragaman harus disikapi secara damai, bukan dengan cara kekerasan. Sebagai mazhab pemikiran/gerakan agama (Islam) dan kebudayaan yang cukup luas.

Dalam negara sekuler, nilai-nilai agama (tertentu) yang dianggap universal dan bisa diterima oleh pemeluk agama yang lain atau bisa diterima manusia secara umum bisa diadopsi dalam institusi negara, akan tetapi dengan memakai retorika bahasa yang umum, bukan bahasa khas agama yang bersangkutan. Meskipun demikian, negara sekuler, gerakan sekularisasi, dan sekularisme, baik dalam dataran konsep maupun praktik riil dalam sejarah kadang (atau bahkan seringkali) terjebak pada tindakan “kekerasan” (dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya), misalnya kekerasan yang dilakukan oleh negara tertentu terhadap entitas agama, hukum adat dan kultur lokal.

Justru karena sangat gigih melansir wacana sekularisme dan demokrasi, gerakan Islib, dalam sisi-sisi tertentu tampaknya terjebak melakukan “kekerasan”, sebuah nilai yang ditentang oleh Islib sendiri. Inilah salah satu paradoks Islib. Kekerasan yang dimaksud adalah ketika Islib mencoba melakukan upaya “peminggiran (atau bahkan penyingkiran) Islam dari wilayah publik”, bahkan lebih dari itu Islib melakukan upaya “privatisasi Islam”. Bukankah dengan dua upaya ini berarti Islib melakukan “kekerasan” terhadap Islam itu sendiri.

Perdebatan tentang wacana sekularisme dan demokrasi adalah sebuah perbincangan tentang agama (Islam) kaitannya dengan politik, negara, pemerintahan, dan bangsa. Dan, tampaknya dalam persoalan ini, mazhab Islib akan “menendang” dan “mengusir” jauh-jauh entitas agama dari wilayah publik, politik, negara, pemerintahan, bahkan bangsa.

Selain itu, para eksponen Islib seringkali terjebak pada semangat berlebihan, sehingga tampak mengidap arogansi karena menganggap komunitas Islib jauh lebih baik dan lebih superior dari “yang lain”. Nada-nada seperti: “Islib, demokrasi, dan teologi negara sekuler merupakan evolusi tertinggi dan final peradaban manusia”, “masa depan umat manusia tidak bisa lain kecuali Islib”, “harus demokrasi, harus Islib”, dan semacamnya seringkali menghiasi wacana mereka

Hal itu menunjukkan bahwa Islib terjebak melakukan upaya universalisasi dan totalisasi. Padahal, Islib mengidap banyak kelemahan dan bias, bahkan sejak dari asumsi dasar, bangunan pemikiran, dan epistimologinya.

Yang terkesan mengejutkan dan tidak lazim adalah analisis bahwa Fundamentalisme Islam, (Neo-)Modernisme dan Islam Liberal yang biasanya bertikai di permukaan, sebenarnya merupakan “saudara kembar” yang berasal dari nenek moyang yang sama yaitu Ibnu Taimiyyah/Muhammad Ibn Abdul Wahhab. Justru karena berasal dari nenek moyang sama, maka ketiganya—Fundamentalisme Islam, Neo-Modernisme Islam, dan Islam Liberal—sama-sama berwatak “fundamentalis” dan “ekstrem” karena sama-sama mengacu ke Teks Suci. Karena menjadikan Teks Suci sebagai acuan utama untuk memburu kebenaran dan universalitas, maka berarti seseorang akan terjebak menuhankan Teks, padahal realitas kehidupan yang menyebar jauh lebih luas dan lebih kompleks.

Kaum kelas terdidik urban kita yang berwatak kolonial memang getol mereproduksi wacana yang canggih-canggih dengan mengutip referensi-referensi yang terkesan “berbobot” dan mutakhir, tapi apa yang diwacanakannya seringkali nonsens dan discontent karena tidak pernah membumi dan menyentuh kehidupan riil masyarakat yang terdekat spektrumnya atau kehidupan masyarakat dan bangsanya. Wallahu A’lam nur s

2 thoughts on “Watak Kolonial Islam Terdidik

  1. Cara pengamatan yang menyebabkan bahwa penggambaran tentang lingkungan mungkin ada yang ditambah-tambah atau dibesar-besarkan, tetapi ada pula yang dikurangi atau diperkecil pada bagian-bagian tertentu. Dan ada pula yang digabung dengan penggambaran-pengambaran lain sehingga menjadi penggambaran yang baru sama sekali, yang sebenarnya tidak nyata.
    Dan penggambaran baru yang seringkali tidak realistic dalam Psikologi disebut dengan “Fantasi”.
    Seluruh penggambaran, apersepsi, pengamatan, konsep, dan fantasi merupakan unsur-unsur pengetahuan yang secara sadar dimiliki seorang Individu.

  2. Kepribadian manusia itu terbentuk dari proses pembelajaran ataupun yang memang ada sejak lahir atau berupa naluri dan dorongan yang bersifat alami.
    Dan kadang-kadang pembentukan pribadi seseorang ada juga yang berdasarkan pengalaman dimasa kanak-kanak, yang mana adanya pola pengasuhan oleh orang tua serta naluri alami yang memang memberikan respon ketika mengalami dan mempelajari sesuatu.
    Sebagaimana unsur-unsur pengetahuan yang terdapat dalam pembentukan kepribadian manusia, yang dihimpun menjadi satu, juag tidak berasal dari naluri saja, tetapi juga pembelajaran. Karena dalam alam bawah sadar manusia berbagai pengetahuan larut dan terpecah-pecah menjadi bagian-bagian yang seringkali tercampur aduk tidak teratur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s